Rabu, 26 Maret 2014
(Gak sempet ngedit, jadi kalo ada kata-kata, ejaan, pemilihan kata yang kurang pas, tolong hubungin gue ya, mohon kerja samanya *Smily Face* pin: 3287943A)
Malam Ritual Chapter 4
Jam tangan tertunjuk Pukul 10.36 sesampai dirumahku,
memang rumahku dengan rumah Azizah membutuhkan sekitar 30 menit dengan
kecepatan standar menggunakan motor. Apalagi Hadi, rumahnya lebih jauh lagi
walaupun hanya membutuhkan 15 menit jalan bagiku. Jalanan tampak sepi,
sepertinya semua sudah terlelap dalam tidur mereka. Rumahku yang hanya terdapat
satu lampu menyala mengingatkanku lagi saat berada di dalam rumah sakit kecil
dalam malam yang horror seminggu yang lalu.
~|~|~
Saat Rizal hendak memberikanku roti, ia terdiam melihatku
yang saat itu sedang melihat kuntilanak itu melihat kita. Atau mungkin
kuntilanak itu melihat Rizal, Rizal melihatku dan aku melihat kuntilanak itu? Tatapan
segitiga? Rizal lalu menoleh ke arah kemana aku melihat sambil mengunyah roti
dimulutnya. Ia malah mendekat ke arah jendela dan membukanya
“He Kuntil! Mau makan juga lu? Tapi pala lu pasang
dulu yang bener! Haha!” Rizal mengatakan itu dengan senang hati, ia bercanda
kepada sang kuntilanak. Kuntilanak itu tak membalas, ia hanya berjalan mundur
‘Fade Out’ dan menghilanglah dia lagi dari kita. Ku ambil roti yang sedang
dibawa oleh Rizal di tangan kirinya yang sebelumnya hendak diberikannya
kepadaku. Kita berdua memakan roti itu secara perlahan menghilangkan rasa lapar
kita di ruangan berdarah itu. Sambil berbincang kita mendapat pikiran untuk
tidur di ruangan itu sampai pagi tiba, saat itulah kita baru mencari
pertolongan. Suasana yang gelap dan sunyi saat itu tidak memungkinkan bagi kita
untuk mencari pertolongan. Tetapi karena ruangan itu berdarah, kita mencari
ruangan lain untuk kita gunakan sebagai tempat tidur sementara. Dengan hanya
menggunakan flashlight kecil untuk menerangi jalan. Kita memilih untuk tidur
tepat disebelah ruangan berdarah itu.
Rizal membuka pintu itu dengan perlahan dan saat
terbuka lebar. Ruangan itu begitu gelap. Kita tak bisa melihat apapun, lalu
Rizal mengarahkan flashlight nya ke segala arah dalam ruangan itu. Ternyata
ruangan itu lebih mengerikan daripada ruangan berdarah. Ruangan ini ruang
gantungan, iya… ada 6 orang perempuan telanjang terpancung di ruangan itu.
Dengan gambar sebuah lingkaran segitiga di tengah setiap perut dan dahi
perempuan-perempuan itu. Aku hanya dapat menutup mulutku agar tidak teriak.
Sudah tidak ada gunanya lagi berteriak. Itu hanya akan menghabiskan tenaga. ‘Sebuah
Ritual’ Terkatakan oleh pikiranku. Rizal kemudian langsung menutup pintu
ruangan itu.
“Kita cari ruangan lain aja, ruangan itu lagi kotor.”
Kata Rizal kepadaku dengan ekspresi seolah tak melihat apa-apa. Kami berdua
kemudian berjalan menyisiri lorong rumah sakit itu, melihat apakah ada hal yang
sama seperti dikedua ruangan sebelumnya. Sampai akhirnya kita menemukan sebuah
sofa, yang tampaknya bersih dari debu. Jendela diatas sofa sedikit menerangi
tempat itu, sehingga kami berpikir untuk istirahat disitu menunggu kedatangan
terbitnya sang matahari.
Tetapi saat kami duduk di sofa itu dan lampu mengarah
ke depan. Begitu banyak penampakan yang terlihat dari mata kita. Sofa yang
terletak di ujung lorong rumah sakit itu begitu nyaman, begitu pula dengan
pemandangan yang terlihat dari kita. Seringkali terlihat bayangan-bayangan
putih yang berterbangan mengelilingi lorong itu. Tampaknya makhluk yang tak
dapat dilihat oleh mata manusia biasa sedang beraktivitas di malam hari. Pada
saat itupun aku berpikir, apakah mereka melihat kita? Karena semua bayangan
yang lewat tak mengarah kepada kita.
Mata rizal tampaknya sudah tak tahan lagi untuk tetap
terbuka. Ia tertidur terlebih dahulu. Sedangkan aku tak berani tidur, melihat
bayangan-bayangan putih berkeliaran. Suara-suara yang terdengar juga begitu
menyeramkan. Suara tawa seorang wanita, tapi tak ada wanita di situ. Suara
tangisan bayi, tapi tak ada bayi disitu. Saat itupun aku bernostalgia untuk
sesaat mengingat kata-kata Hadi. ‘Bayi adalah salah satu hal yang paling lucu
di dunia ini, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang sangat menyeramkan apabila
terdengar sebuah tangisan bayi disaat dirumah sendiri dan tidak ada bayi yang
tinggal disitu’
Kini aku menghadapi kenyataan itu. Kedua tanganku
menutupi kedua telingaku, tetapi tetap saja terdengar. Aku tak tahan, inilah
saatku tuk melawan pikirku. Aku harus mencari sumber suara tangisan bayi
tersebut. Aku mengambil HP dengan flashlight itu dan memberanikan diri. Seluruh
tubuhku merinding bergetar, saat aku berdiri. Lalu aku coba hilangkan semua
rasa takutku laluku berjalan dengan tegak. Sudah muak aku berjalan dengan
perlahan. Inilah saatku beraksi. Jadi aku semakin mempercepat langkahku kepada
sumber suara tangisan bayi dan tawa seorang wanita.
Ternyata suara itu mengarah ke sebuah ruangan. Ruangan
itu adalah ruangan jenazah. Seluruh tubuhku kembali merinding bergetar. Aku
mulai ‘perlahan’ lagi. Aku membuka pintu ruangan jenazah itu dengan perlahan
dan terlihat seorang wanita. Itulah kuntilanak nya, bentuknya berbeda dari yang
sebelumnya. Ia tak setinggi kuntilanak yang telah menghantui kita sebelumnya. Aku
hanya dapat mengucapakan kata ‘Halo’ Ia lalu tertawa lagi dan menghadap ke
arahku. Ia menggendong sebuah bayi, bayi yang tampaknya penuh dengan darah. Ia
hanya menatapku lalu terdiam. Sedangkan disaat aku berusaha mendekatinya,
niatku bersalaman dengannya. Ia malah menghilang dan tertinggalku sendiri
dikelilingi oleh mayat-mayat yang terdapat di ruangan itu.
Aku berhasil! Itulah yang terucap dalam pikiranku. Aku
tak pernah merasa begitu bahagia dalam suasana yang begitu menyeramkan. Aku
berhasil melawan rasa takutku, aku telah berubah. Tak ada yang bisa
menghentikanku lagi. Aku dengan rasa bangga kembali ke Rizal. Melewati
bayang-bayang putih, itu tak menakutiku lagi. Aku berjalan selayaknya seorang
yang sedang dalam keadaan normal. Tiba-tiba suara teriakan terdengar lagi.
“Randi! Cepat kesini, Hadi ada disini!” Itu suara
Rizal dari arah luar rumah sakit. Ia meneriakan bahwa Hadi ada disitu. Tetapi
aku terbingung, bukannya Rizal tadinya tertidur lelap di sofa. Lalu aku
mendengar sebuah teriakan lagi
“Randi! Jangan keluar, kembali ke sini! Aku juga
mendengar diriku!” Suara Rizal lagi terdengar, tetapi kali ini dari arah menuju
sofa. Aku makin terbingung lagi, bagaimana bisa ada dua suara yang sama dari
dua arah yang berbeda.
“Randi, keluar disini ada Hadi! Cepat keluar, ada yang
meniru suaraku! Jangan ikuti dia!”
“Randi, cepat kembali ke sofa! Yang diluarlah yang
meniru suaraku!” Suara teriakan terus terdengar dari suara Rizal dari dua arah
yang berbeda. Padahal Rizal tidak memiliki kembaran dan adiknya semua
perempuan. Ini adalah sesuatu yang begitu mustahil. Aku berdiri ditempat,
berpikir kearah manakah aku harus melangkah.
~|~|~
Ke arah manakah aku harus melangkah? Dengan satu lampu
yang bersinar, oh itu lampu ruang tamu. Pulang malam, ucap salam, nuju kamar
mandi, sikat gigi, lalu berbaring di tempat tidurku. Oooh hari yang begitu
melelahkan tetapi pada akhirnya juga ya tidak ada hari yang lebih melelahkan
daripada kejadian seminggu yang lalu.
To Be Continued
Langganan:
Postingan (Atom)