Rabu, 19 Februari 2014
Kejadian ini lebih dari setahun yang lalu jadi gak 100% benar, semua namanya aku ubah kecuali namaku sendiri, tetapi ambil aja inti ceritanya oke, kalau ada salah penulisan kata atau ejaan yang jelek
Tangisan Sahabat
Semua orang pasti memiliki sahabat, seperti yang
seharusnya anda tau, bagaimana seorang bisa hidup tanpa sahabat? Sahabat-sahabat
yang memiliki karekteristik yang berbeda-beda yang apabila kita berkumpul dapat
melengkapi satu sama lain. Aku punya seorang sahabat cowok sebut saja namanya
yoga dan dia sedang mengalami kisah cinta dengan seorang gadis yang akhirnya
juga menjadi sahabatku juga, Indah. Aku melakukan berbagai cara sebagai seorang
sahabat agar dapat mendekatkan mereka berdua. Seperti menggoda saat bertatapan,
mengatakan kelebihan-kelebihan yoga dengan indah, pokoknya memberi motivasi
untuk mereka berdua agar mereka bisa menjadi satu yang akhirnya semua itu tidak
berjalan dengan sia-sia. Mereka kini bersama, saling mencintai berpacaran lebih
dari 2 tahun mungkin sekarang. Gue benar-benar salut sama mereka bisa langgeng
sampai satu tahun padahal masih anak SMP. Karena anak smp biasanya labil-labil,
2 tahun itu benar-benar wow.
Semua hubungan pasti tidak ada yang begitu mulus tanpa
ada goresan dalam hubungan itu. Sebuah tangisan dalam suatu hubungan cinta
adalah bekas dari sebuah goresan.
Seperti suatu saat aku berdua dengan Indah. Karena pacarnya adalah sahabatku,
ia memilih untuk mengatakan curhatannya kepadaku pertama. Saat itu saat pulang
sekolah ia menyuruhku untuk tidak pulang terlebih dahulu setelah kegiatan
ekskul kita selesai. Dan saat kita tinggal berdua disekolah kata-kata
pertamanya adalah “Aku gak kuat ham” Lalu ia terdiam dan bersandar di pundakku.
Setelah itu suasana menjadi hening karena aku tak tau harus berkata apa kepadanya
mengetahui aku pernah menyakiti perasaan seorang perempuan juga. Sebuah tetesan
air lalu terasa di pundakku. Saat itu adalah pertama kali aku merasakan sebuah
tetesan air mata yang bukan milikku yang berasal dari sebuah perasaan hati. Aku
langsung menoleh kepadanya ia menangis lalu melanjutkan berkata-kata “Kenapasih
ia tetep aja tidak bisa menghargai apa yang aku lakukan?” Kata-kata darinya
benar-benar membuatku berpikir tentang diriku sendiri, instrospeksi diri
tepatnya.
“Kamu tau gak? Radit adik kelas kita itu?”
“Iya, kenapa dengan dia?”
“Kemarin dia nembak aku, dan jelas aku tolak ham” Ia
mengatakannya dengan terus menerus meneteskan air mata. Sedangkan aku mulutku
hanya terdiam serasa telah terkunci aku tak bisa membukanya. Aku hanya mengambil nafas dalam dan mencoba
merasakan apa yang ia rasakan. Tetapi itu sepertinya tidak mungkin,
kedewasaannya sudah jauh lebih tinggi daripadaku. Ia lalu menggengam tanganku
dan menaruknya di dadanya, ia menangis lebih keras dan berlanjut.
“Indra juga pernah menyatakan perasaannya kepadaku, Rafi
pernah membelikan bunga untukku, Kevin juga pernah minta aku untuk dapat membagikan
sedikit hatiku untuknya! Tetapi semua jawabannya jelas ham. Mereka tau aku
sudah sama Yoga tetapi mereka juga tau bahwa hubungan kita memang tidak baik
saat ini. Dan kamu tau kan apa yang aku katakan kepada mereka? A… A… Aku
mengatakan kepada mereka … bahwa aku tetap cinta kepadanya walaupun sebuah
masalah sedang memisahkan kita berdua untuk saling mengatakan ‘aku mencintaimu’…
Aku mengatakan itu kepada mereka dan lihatlah Yoga, apa yang ia lakukan… Ia kini
mulai tidak pamit pulang ke aku kalau ia tidak bertemu denganku saat pulang
sekolah, Ia sering tidak membalas smsku, padahal aku sudah membelikan pulsa
untuk dia, dibalaspun dibalas dengan singkat… Dan yang paling aku ingin tau, apakah
semua rumor tentangnya bahwa ia sering bedua an dengan Putri itu benar ham?”
Dengan tangisan ia mengatakan semua itu, hatiku terasa begitu berat
mendengarnya mengatakan itu semua. Itu Karena semua rumor itu adalah sebuh kebenaran, mungkin karena Putri dapat
memberikan lebih kepada Yoga. Mungkin juga Yoga hanya melampiaskan nafsunya
kepada Putri sedangkan hatinya tetap ada di Indah, tetapi aku tetap tau apa
yang sebenarnya ada di benak Yoga karena Indah memang adalah sosok wanita yang
di idam idamkan oleh lelaki saat itu, ia cantik, pandai berorganisasi dan juga
berprestasi. Mulutku lalu mulai membuka, dan tau apa yang harus aku lakukan.
“Sabar ndah, kamu jangan percaya sama semua
rumor-rumor itu, kalau kamu memang benar-benar mencintai Yoga, maka percayalah
hanya sama dia. Mungkin ini adalah salah satu masa bosan lagi ndah, kamu yang
sabar ya.”
“Tetapi tidak separah ini ham! Kali ini benar-benar
beda!” Ia mengeras perkataannya itu lalu membungkukkan badannya dengan tanganku
masih digenggam didadanya. Tangan
kananku hanya bergetar karena suasana yang membuatnya begitu merinding.
Anginnya yang berhembus dengan kencang, awan mendung menutupi matahari, aku
begitu merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan dalam hidupku. Semua
perkataannya itu, membuat pikiranku terus berpikir. Berpikir lebih maju, lebih
dewasa. Aku yang saat itu tidak memiliki seseorang yang aku cintai berpikir apa
yang harus aku lakukan apabila hal yang sama terjadi kepadaku.
“Yang sabar ya ndah, sabar… Mungkin ini cobaan dari
Tuhan, sebuah kesakitan yang dapat membangkitkan kedewasaanmu yang akan berguna
buat masa depanmu. Sabar ndah” Aku mengatakan itu dengan pelan, memikirkan
setiap kata apakah ini betul untuk dikatakan kepadanya. Ia mulai terdiam dan
tak berkata apapun hanya tangisan yang dapat terdengar darinya. Suasana
benar-benar hening, aku makin merinding dan yang dapat kukatakan kepadanya
hanyalah sabar. Aku berpikir untuk mengatakan tangisan itu kepada Yoga agar
Yoga dapat mengerti karena ia pernah berkata kepadaku sebelumnya bahwa ia tidak
suka melihat seorang wanita menangis. Ia akan melakukan apapun agar wanita itu
tidak menangis lagi. Mungkin ia akan memikirkan kata-kata itu yang ia katakan
kepadaku dan berhenti melakukan hal-hal bersama Putri berdua lagi mengingat
bahwa ia sudah memiliki Indah sebagai orang yang mencintainya. Tetapi saat itu
aku hanya dapat mengatakan kata sabar kepada Indah. Tak ada kata lain yang
dapat kukatakan sampai ia mulai berhenti menangis, lalu ia memelukku dan
menyatakan terima kasih. Kita pulang karena matahari sudah mulai tidak menyinari
hari, aku mengantarnya pulang sampai ke depan rumah. Kata sabar dariku dan
terima kasih darinya. Aku kemudian langsung menuju ke rumah untuk memikirkan
apa yang telah terjadi.
Langsungku berbaring di tempat tidurku dan aku mulai
berpikir berat lagi, mungkin pacaran memang ada gunanya… Aku pernah memainkan
hati seorang perempuan, pernah membagi hati untuk dua wanita dan aku juga
pernah diputuskan oleh perempuan yang aku masih sangat cinta dengan keesokan
hari ia bersama lelaki lain. Semua itu menghasilkan sesuatu, menghasilkan
sesuatu yang penting untuk sebuah hubungan agar tidak mudah hilang. Sesuatu itu
adalah untuk membuat salah satu atau keduanya menjadi lebih dewasa. Kedewasaan
paling mempengaruhi sebuah hubungan. Pacaran dengan teman sebaya
sering-seringnya tidak pernah berlangsung lama karena wanita selalu memiliki
kedewasaan yang lebih tinggi. Tetapi pengalaman juga adalah guru terbaik.
Seseorang laki-laki yang memiliki pengalaman lebih dengan seorang wanita
seumurnya yang tidak memiliki pengalaman mungkin imbang atau juga mungkin sama
seperti cerita orang pacaran seumuran lainnya. Intinya adalah jalanilah hubungan
dengan sikap dewasa, itu saja mungkin?
The End
Malam Ritual Chapter 4 sedang perjalanan *wink*
Langganan:
Postingan (Atom)