Minggu, 18 Oktober 2015
This is for you but I’m showing it to everyone, I won’t tell
who ‘you’ is, you will know by reading it.
I still remember the first time
we met, how you smiled at me and talked to me with your beautiful voice. You
introduced yourself with your nickname and I was like “What kind of nickname is
that?” I laughed hearing it, then you said if I forget what your nickname is I
could ask your friends who is also a friend of mine. But how could I forget you? You are a person
I could never forget in my life. I will always remember that day. I wish I
could change the past so that you and I could be together. Why we are not
together now I think it’s because God is saving it for the future I hope. You
are the biggest hope I ever have in my life. I have never been this attached to
a women, but I’m also not obsessive for you. I want you to be happy with your
choices and if you were happy to drift away from me then I’ll take it. You
remember how I said you are the sun of my life, how I said that this heart
can’t wait anymore to see you again? One day I will finish that song and I want
you to be the first to hear it.
What is
so special about you? If I say you’re beautiful there are many women more
beautiful, if I say you’re cute there are many women cuter, I don’t look at you
upon how you look, but how you are. I love the way you talk and your
personality is the perfect one for me. We have so many things in common, still
remember how I said we were fated together because of that? That wasn’t a joke,
I really wish you are my fate and your fate is mine. Allah knows who our mate
is and again I hope you are mine. If there is a next time, I will love you
because of Allah. Not like how I loved you before. I don’t want to hold your
hand, I don’t want to give you hugs when you need them, I don’t want to be the
one to wipe your tears, but I want to be the one to protect you safe from sins
until I am the one allowed to do all the things that we can’t do now.
Since we drifted apart I chose to
stay away from you, so that I don’t get the same feeling that I had before for
you now because I don’t want to think about you when you are with someone else.
But now it’s different. We can still be friends like how I was hoping, but you
disappear too easy. I don’t know why you do that, but really let’s just be
friends now. Be best friend’s maybe? Talk about all the stories we each had? I
just want you to know, I won’t get the same feeling for you until the time is
right. So I hope we can get close again like before I told you I like you. Was
it selfish for me to say that I liked you? I’m sorry I couldn’t keep the
promise we made. I’m sorry for everything.
I really miss you, I really miss
us. I miss your smile, your laugh, your everything! I am writing this as a
promise to myself that next time if there is a next time I will love you
because of Allah. I just want to give you the white flower to you. From this
end, it’s an official goodbye. I won’t love you again if not because of Allah.
Selasa, 25 Agustus 2015
Diposting oleh
Franco
di
20.07
Label:
Asmara,
bersyukur,
MOPD,
Narasi,
personal,
Sudut pandang orang pertama pelaku utama
1 komentar
Lama gak ngeblog, pas lagi pingin ngeblog kadang-kadangpun terhalang oleh arus internet yang tidak bekerja yang membuat diri saya malas. Maunya sih ngeblog tentang MOPD 2015 di SMA BSS kemarin, tetapi gak mungkin jadi dalam semalaman mungkin minggu depan atau dua minggu lagi tergantung request yang dapat memberikan semangat untuk ngeblog. Ya... Sebagai awalan untuk mulai ngeblog lagi. Saya membuat sebuah karangan pendek yang gak penting tapi kalau mau baca ya silahkan...
Sebelum menuju kesitu pingin upload satu foto dariMOS MOPD kemarin sebagai spoiler untuk blog yang akan saya tulis tentang MOS MOPD.
Sebelum menuju kesitu pingin upload satu foto dari
Ya inilah salah satu keseruan didalam kegiatan mopd kemarin :)
Terlanjur Suka
Senyum…
Ini semua karena senyumannya… Mungkin hal yang paling indah dan mudah untuk manusia
lakukan adalah tersenyum. Hanya dengan tersenyum saja hal-hal yang baik akan dating
kepada kita. Senyuman pertama yang aku lihat darinya langsung membuat diriku tertarik
kepada dirinya. Diriku yang sedang mengalami luka di hati saat itu terasa hilang
hanya dengan melihat senyumannya. Aku berharap pada saat itu bahwa kita bisa menjadi
lebih dekat. Harapan itu bisa dibilang terwujud tetapi hanya sekedar dekat dan tak
lebih. Kukira dan aku ingin mendapatkan lebih. Rasa tak syukurku itu membuatku kini
ke dalam suasana dimana tidak ada ‘dia’ untuk diprioritaskan. Dalam artianku diprioritaskan ini adalah orang
yang selalu aku usahakan untuk ku tanggapi ataupun hubungi. Aku tak tau kini ia
dekat dengan siapa dan mungkin aku sudah tak peduli lagi. Bentar… Kalimat itu harus
dikoreksi. ‘Mungkin aku sudah tak peduli lagi’ lebih tepat diganti dengan ‘aku berusaha
untuk tidak peduli’. Karena setiap kali aku mencoba untuk tidak peduli, aku kembali
melihat senyumnya yang membuat diriku berharap kembali kepada sesuatu yang tak pasti.
Ini semua membuatku pasti bahwa aku sudah terlanjur menyukainya.
Semua ini terjadi karena senyumannya…
Rabu, 20 Mei 2015
'That Feels'
Terasa dingin dengan hanya mengenakan kaos oblong untuk
menutupi tubuh pada jalanan kota. Malam yang diiiringi dengan suara kendaraan
motor dan mobil. Kulewati jalan pintas agar terhindar dari keramaian jalanan dalam kota. Jalan pintas yang membawaku kembali kepada kenangan yang telah membuatku
menjadi orang yang lebih baik. Ada berbagai bunga yang terpajang di jalan itu
tetapi aku hanya melihat mawar putih yang dijual oleh para florist. Sebuah takdir yang masih kuharap dapat berlanjut sesuai dengan izin
dari-Nya. Aku ingin kembali bisa tertawa bersamanya. Tak tau apa yang
membuatnya berhenti begitu saja. Mungkin sebuah salah paham? Atau mungkin aku
yang telah berbuat bersalah. Seperti ruangan yang tak ada cahayanya, aku tak
bisa melihat apa yang telah terjadi. Aku tak tau apa ia telah menyukaiku
sepertiku menyukainya. Aku belum butuh balasan untuk rasa sukaku itu. Karena
cukup hanya dengan melihat senyumnya, hatiku telah membuatku menjadi seseorang
yang lebih baik untuknya. Walaupun aku sudah tak dekat lagi dengan dirinya dan
pada setiap saat aku mulai mendekati yang lain hatiku berkata “Apa yang lu
lakuin ha?!” Pada saat itu aku yakin bahwa ia memanglah hidayah yang diberikan
Tuhan untukku.
Kini ku masih berharap takdir yang baik seperti makna mawar putih nya.
Senin, 05 Januari 2015
Mengejar daripada Mempertahankan
Kadang-kadang apa yang kita minta kepada Tuhan diberikan tidak sesuai
dengan harapan kita melainkan lebih baik daripada itu. Misalnya kita berdoa
untuk diberikan kendaraan dengan harapan bahwa yang diberikan adalah sebuah
motor baru melainkan yang diberikan kepada kita adalah sebuah mobil baru. Tuhan
memiliki rencana-rencana yang terbaik untuk kita karena Tuhan Maha Tahu.
Kadang-kadang kita berdoa berdasarkan keinginan tanpa melihat apakah itu
dibutuhkan oleh kita atau tidak. Lalu Tuhan menjawab dengan memberikan
kebutuhan yang ternyata itu ialah yang kita inginkan sebenarnya.Manusia memang
adalah makhluk dengan penuh rencana tetapi Tuhan Maha Tahu mana rencana yang
terbaik untuk kita. Dalam setiap kehidupan tidak mungkin ada yang selalu sesuai
rencana. Pengalaman membuatku menyadari apa yang aku harapkan itu bukan yang
telah direncanakan oleh Tuhan. Ia telah memberikan yang jauh lebih baik dari
itu.
Tak cantik dan tak semenarik yang lainnya, aku mengenal dia pada saat
berkelompok mendiskusikan masalah yang harus kami temui solusinya, tugas dari
guru PKn kami. Memang saat itu kami masih awal tahun pelajaran baru sehingga
aku mengenalnya sebatas nama dan tampang saja. 40 menit satu jam pelajaran di
sekolah kami, satu jam pelajaran untuk mendiskusikan masalah lalu satu jam
pelajaran lagi untuk mempresentasikan hasil diskusi kami. Terbagi menjadi 6
kelompok dan saat itu kami mendapatkan topik tentang toleransi antar agama di
Indonesia. Kami membahas matang-matang masalah itu dengan menuliskan kehebatan
toleransi di Indonesia. 6 Agama yang dapat terjalin dengan toleransi yang
sempurna dan menuliskan juga kejadian-kejadian yang telah merusak kesempurnaan
itu. Jam pelajaran kedua dimulai dan kelompok kami mendapatkan kesempatan
pertama untuk mempresentasikan hasil diskusi kami. Aku yang merupakan ketua
dari kelompok tersebut membuka presentasi itu dengan cukup sempurna menurutku sih lalu dijelaskan oleh Siti dan ternyata ia menjelaskannya jauh
lebih sempurna dengan yang telah aku harapkan, jauh lebih pintar daripada
diriku yang membuatku berpikir 'lo keren sumpah'. Awal dari terkagumnya diriku
kepadanya.
Saat itu aku memiliki seorang pacar yang juga tidak sesuai dengan yang
aku harapkan, ia terlalu pasif pendiam. Memang pacarku saat itu memiliki
penampilan yang sesuai dengan seleraku, aku masih menilai perempuan berdasarkan
kecantikan pada saat itu. Mungkin aku yang terlalu cepat dalam mengambil tindakan
membuat hubungan kami tak sampai sebulan aku berpacaran dengannya. Sebut saja
Lila, pandangan pertamaku padanya langsung menarik hatiku untuk melakukan apa
yang disebut dengan PDKT. Juga tak sampai sebulan pdkt aku sudah berpacaran
dengan dia. Terlalu cepat bukan? Kita tak tau sifat-sifat dia yang sebenarnya
apabila waktu pdkt hanya dalam waktu yang singkat. Bentar... sifat? Aku kan
menilai wanita berdasarkan penampilan waktu itu jadi sifat tak masalah bagiku.
Aku pacaran dengan Lila lah yang membuatku tidak dekat dengan Siti
Karena seperti yang kujelaskan tadi, Lila jauh lebih cantik daripada Siti .
Sebuah sifat yang menakjubkan belum dapat menarik diriku untuk merubah rasa
kagum jadi suka. Tetapi semua itu dapat berubah dengan sekejap saat aku pergi ke
rumahnya untuk mengembalikan helm nya yang telah dititipkan kepadaku. Niat yang
hanya untuk mengembalikan helm berubah menjadi perbincangan panjang lebar dari
A sampai Z. Dia benar-benar keren, semua yang kita perbincangkan tidak pernah
menimbulkan rasa bosan, aku bisa berbincang dengannya seharian tanpa henti.
Paling berhenti ya karena makan dan melaksanakan kewajiban tetapi saat itu
langit sudah bewarna hitam jadi tak selama dengan yang kuinginkan. Bosanku
pacaran dengan Lila membuatku merasa bahwa aku naksir sama Siti . Tak lama
kemudian dari hari dimana aku dan Siti berbincang panjang lebar, aku putus
dengan Lila. Tapi itu semua sudah terlambat karena Siti ternyata sudah dekat
dengan lelaki lain, Fajar. Kecewa? Tidak, aku saja yang terlalu bodoh menilai
wanita berdasarkan penampilan semata.
"Ha dia nembak kamu? Di depan teman-temanmu dan
teman-temannya?" Hari dimana Fajar menembak Siti yang membuat semua
harapanku untuk mendapatkannya hilang.
"Iya, harus bagaimana ini ham?"
"Hmm, perasaan kamu ke dia gimana?"
"Gak tau aku bingung"
"Kalau kamu emang juga memiliki perasaan yang sama, kamu terima
aja, jangan dipending-pending."
"Gak tau ham, kayagnya masih belum ada perasaan yang pasti"
"Kalau kamu tak memiliki perasaan yang sama tetapi kamu telah
memberikan harapan kepadanya dengan membiarkan dia mendekatimu, sebaiknya kamu
terima dan belajar untuk mencintai dia, karena kadang kita harus belajar
mencintai orang yang mencintai kita karena tak selamanya orang yang kita kejar
itu punya perasaan yang sama pada kita." Ohh Ilham lu goblok bangeet,
kenapa lu mengeluarkan kata-kata yang bijak seperti itu, coba lu ngomong jangan
diterima dengan alasan apapun kalau kamu tak memiliki rasa yang sama, ooh
gobloknya lu.
Ternyata ia sudah menerima nya pada saat percakapan kami itu, karena
percakapan tadi dilaksanakan melalui media bbm ia juga menerima Fajar jadi
pacarnya lewat bbm. Ia menerima dengan alasan kasian. Alasan yang sangat tidak
masuk akal. Ohh Why... Ya sudahlah biarkan mereka berkarya dan menciptakan
sebuah cerita baru. Secara otomatis aku sudah tak menghubungi Siti lagi melalui
media sosial melalui bbm. Apa gunanya mengejar orang yang sudah ada yang punya.
Aku kembali menjadi diriku yang mementingkan bermain dota daripada mengejar
wanita lagi. Hari-hari dimana Hp selalu sepi dimana aku sudah tak lagi
menggunakan paket bbm lagi.
Sebulan kemudian, seorang wanita cantik kembali menghampiri hidupku.
Iya cantik sekali tetapi kalau yang ini beda, ia baru putus. Tak bisa ia move
on dari mantannya. Yang ini gak pasif pendiam, tetapi cerewet dan juga bisa
berbincang panjang lebar walau tak semenarik perbincanganku dengan Siti. Cantik
dan rame? Cukup itu saja menurutku, sebut saja Rhia. Penting tidak seperti Lila
yang pendiam yang membuatku seperti berbicara dengan batu. Aku merasa lebih
nyaman dekat dengan Rhia walau tak senyaman saat dekat dengan Siti. Setelah
sekitar 2 minggu pdkt, aku merasa bahwa ia adalah milikku and no one can
stop me. Alay, lagi-lagi aku tak berpikir panjang lebar. Aku mengajaknya
pergi jalan-jalan 'kencan nih?' yang berunjung kami foto berdua. Lebih
mengagetkan lagi ternyata si mantan melihat kami berdua. Bukan Lila, ini beda
lagi.
Keesokan harinya Rhia tiba-tiba cuek seolah-olah mencoba hilang dari
hidupku. Aku merasa bahwa telah diberikan harapan palsu olehnya. Terus menjadi
penat dalam pikiranku, kenapa hal ini bisa terjadi kepada diriku. Apakah
gara-gara kemarin sehingga ada sebuah rasa ilfeel yang muncul darinya? Aku tak
tau. Aku meminta alasan tapi tak ia berikan sehingga kucoba tanya kepada teman
dekatnya yang akhirnya memberikan sebuah kejelasan mengapa hal ini bisa
terjadi. Mantanku yang se ekskul sama Rhia, mengancam Rhia untuk tidak
dekat-dekat denganku. Ia takut menimbulkan sebuah permusuhan di dalam ekskul
nya sehingga memilih untuk menjauh dariku.
Aku tak tau sekarang apa yang harus aku lakukan. Lalu teringat sebuah
kalimat dari seseorang yang berbunyi agar kita harus menyatakan perasaan
sebelum orang itu pergi dari hidup kita. Tak tau kenapa hal itu malah yang
terpikir olehku sehingga aku memilih untuk mengatakan bahwa aku suka sama Rhia
secara langsung padanya. Keesokan harinya setelah pulang sekolah, aku
mengatakan semua perasaanku kepada Rhia. Mungkin ini pertama kalinya aku bilang
"aku suka sama kamu" secara langsung. Semua penat yang ada dalam hati
aku ungkapkan semuanya. Tetapi balasannya membuat diriku kecewa, ia tetap
memilih untuk menjauh dariku setelah semua yang kukira adalah sebuah harapan
untukku.
Kembali lagi pada diriku dengan hati yang mengatakan tidak ingin dekat
dengan wanita lagi yang ternyata itu hanya berlangsung selama satu hari. Karena
keesokan harinya aku mencoba melampiaskannya kepada wanita lain. Agar bisa
lebih cepat move on dari sebuah rasa yang ternyata hanya sebuah kepalsuan. Kali
ini wanita yang kupilih adalah teman dekat dari Siti. Jauh lebih cantik dari
Siti dan lebih tinggi pula. Saat itu ia memang juga tidak ada yang punya
sehingga aku mencoba mendekati dia untuk melupakan kegalauan yang aku alami.
Berhasil, menurutku ini move on tercepat yang pernah aku alami. Aku
sudah tak lagi memiliki rasa kesal kepada Rhia seminggu kemudian. Disamping itu
pula, seminggu kemudian lagi aku merasa bahwa dengan teman dekatnya Siti ini
aku tak merasa nyaman seperti saat dekat dengan Rhia maupun Siti. Sehingga
daripada memberikan harapan palsu, aku menjauhinya secara perlahan dan kembali
pada diriku yang memiliki hati tanpa perasaan kepada siapapun. Kebetulan saat
itu ujian akan berlangsung dan hatiku dalam keadaan tenang, hanya bisa
kuucapkan terimakasihku kepada Tuhan karena menempatkan diriku dalam keadaan
tenang pada saat ujian akan dilaksanakan.
Tinggal 2 hari lagi hingga Ujiannya berakhir, aku mendapatkan sebuah
berita yang sangat bahagia bagiku. Siti telah berhenti berhubungan pacaran
dengan orang yang bernama Fajar itu. Berita itu membuatku melaksanakan ujian
dengan lebih semangat. Pada hari terakhir ujian berlangsung, malamnya aku
mengajak Siti untuk jalan-jalan sebagai sebuah bentuk refreshing atas seminggu
penuh perjuangan otak. Aku ingin mendengar seluruh ceritanya dari Siti
bagaimana kejadiannya yang membuat hubungan mereka berakhir. Kembali lagi kita
berbincang dari Aceh sampai Papua, sungguh menyenangkan bisa jalan-jalan berdua
sama dia. 'PDKT ulang' otakku terus berkata beserta neuron-neuron yang bergerak
dalam otak terus meneriakan 'YEAAAAH!' Sambil bergerak kesana-kemari. Tak henti
aku menghubungi dia melalui bbm setelah jalan-jalan berdua dengannya.
Otomatis setelah Ujian adalah liburan. Pada liburan itu tiada hari dimana aku
tidak tersenyum karenanya. Ia membuat hari-hariku tidak bosan saja dengan
diriku menonton film seperti biasanya, tetapi ia membuatku tersenyum pada
setiap balasan yang ia berikan.
Setiap aku terbangun dari tidurku aku teringat dirinya
Setiap aku melihat fotonya tak ingin kulepas pandanganku
Setiap aku melihat waktu ingin kupercepat agar dapat bertemu dengannya
Setiap aku menghitung waktu saraf otakku memikirkan dirinya
Mungkin ia tak secantik seanggun
Cinta tak memandang baik rupa
Aku hanya ingin berjumpa dengannya
karena hati ini sudah tak tahan lagi ingin bertemu, karena dirinya bagaikan matahari dalam hidupku, dan karena aku begitu merindukannya.
Sebulan kemudian saat liburan hendak berakhir aku mengajaknya
jalan-jalan lagi dan kuungkapkan seluruh perasaanku kepadanya tetapi tak
kuucapkan 'Kamu mau jadi pacarku' melainkan aku katakan 'Bolehkah aku terus
mengejarmu sampai waktunya nanti'. Rasa cintaku padanya membuatku berpikir
bahwa kalau aku sampai jadi pacarnya maka akan 'Game over' dan berhenti begitu
saja dengan harus mempertahankan 'High Score' itu. ‘Mengejar lebih mudah
daripada mempertahankan’ kuingat kata-katanya. Mungkin suatu saat nanti aku
akan jadi pacarnya atau tidak. Menurutku, itu kehendak Tuhan.
Pada saat itu aku berpikir tentang masa lalu yang telah terjadi saat ia
masih sama pacarnya. Kalau aku jadian sama Rhia, mungkin seseorang spesial
seperti Siti tak bisa kudekati lagi, begitu pula kalau aku dekat dengan
temannya Siti, malah takkan selamanya ku bisa dekat dengan Siti lagi. Mungkin
ini memang kehendak Tuhan, hidayah Tuhan yang diberikan kepadaku untuk menjadi
lelaki yang lebih baik karena seorang wanita itu.
Jangan mencintai seseorang karena penampilannya
Kalau ia mencintaimu maka ia akan mengarahkanmu ke jalan yang lebih baik
The End
Langganan:
Postingan (Atom)