A Little Introducing

Malang, Jawa Timur, Indonesia
Birth name Ilham Rianto. Im just an ordinary guy with some ordinary writings who one day will be a movie director.

Senin, 03 November 2014

You and I

You and I

            Okay I’m back writing… kali ini aku akan membuat sebuah cerpan yang based on a true story. Based artinya berdasarkan kah? Berdasarkan kisah nyata? Okeh mungkin cerpen yang akanku tulis tidak semuanya berdasarkan fakta. Aku mungkin hanya ingin menulis saja dari sebuah pengalaman yang menurutku keren karena belum pernah aku alami ditambah dengan sedikit pengayalan yang mungkin akan menghancurkannya. Mungkin lebih ke khayalan ya, sebuah cerpen fiksi non fiksi? Oke langsung to the point aja, intinya aku tidak tau apa yang seharusnya aku lakukan saat ini.

                                                                             ***

            ‘Ayo foto sama aku ham!’adalah kalimat pertama yang ia katakan kepadaku. Aku yang saat itu masih dalam status pacaran dengan wanita lain merasa senang ia mengajakku untuk berfoto dengannya. Entah mengapa, mungkin karena pacarku yang kurang dapat membuatku benar-benar cinta dengannya membuatku mudah terlena dengan kehadiran wanita-wanita lain disekitarku. Aku kalau serius beneran serius, itu kalau lawannya juga serius. Menurutku apa gunanya kita melakukan sesuatu dengan serius jika hal yang kita hadapi malah bertindak sebaliknya.
            Ia mengajakku foto pada saat ulang tahun Rani, teman baiknya. Wanita itu, kita sebut saja Bunga karena bagiku ia seperti bunga yang mekar , bunga yang indah nan menarik yang tinggal menunggu waktunya untuk dipetik. Banyak lelaki yang menyukainya membuatku tidak memiliki keinginan untuk mendekatinya karena statusku yang sudah ada yang punya. Aku tidak ingin dipandang buruk oleh yang lain. Jaman kini yang mengatakan seseorang adalah playboy atau playgirl karena dekat dengan banyak lawan jenisnya yang kukira itu adalah hanya julukan buat mereka yang selingkuh dengan pacarnya atau memiliki lebih dari satu pacar.
            Akibat dari tindakannya untuk meminta foto denganku, aku tiba-tiba memikirkannya yang saat itu aku sudah seminggu tak berhubungan lagi dengan pacarku. Sepertinya aku sudah tidak punya rasa lagi dengan pacarku padahal pada awalnya aku ingin hubungan kita berlangsung dengan lama. Aku bbm dia secara tidak jelas dengan mengatakan ‘alah bung’ dan juga dibalasnya dengan mengatakan ‘salkim ya mas?’ maksudku adalah singkatan dari Bunga, jadi ‘bung’ tetapi malah seperti memanggil seorang lelaki yang lebih tua dari kita. Jadi aku menjelaskannya secara kurang jelas dengan panjang lebar yang sebenarnya aku hanya membolak balikkan kata-kataku.
            Itu adalah yang pertama, yang kedua tindakanku adalah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan kepada pacarku. Jadi aku mengatakannya secara tidak gentle dengan menggunakan media hp. Lalu pada hari itu juga aku sudah dalam status menjomblo lagi.  Bahagia mungkin bisa mulai dekat dengan wanita lain, brengsek emang gue. Pernah aku katakan pada teman dekatku untuk jangan pernah mau jadi pacarku karena lelaki sepertiku emang brengsek dengan perasaan seperti ini. Atau mungkin sifat brengsekku hanya muncul saat dia tidak serius, saat kita tidak ingin ia melakukan sesuatu tetapi tetap dilakukannya, saat ia tidak menurut untuk melakukan sebuah kebaikan, saat ia mulai egois kepada kita.
            Aku sangat ingin benar-benar serius dengan seorang wanita yang dapat aku jaga yang tak begitu mudah untuk didapatkan, yang membutuhkan sebuah perjuangan. Sebuah cerita tidak akan pernah keren apabila happy endingnya berlangsung dengan begitu sederhana dan mudah. Mungkin karena keinginanku ini, Bunga sekarang sudah tidak begitu dekat denganku lagi. Atau mungkin aku saja yang terlalu alay dan terlalu mudah menyerah karena tak terbiasa dengan perjuangan panjang.

                                                                             ***

            ‘You and I!’ Sebuah dialog dalam sebuah pementasan teater dimana aku harus mengganti Kamu menjadi You dan Aku menjadi I. Aku mendapatkan sebuah peran ini yang menurutku adalah sebuah peran yang cocok buatku. Baru kali ini aku merasa bahagia mendapatkan peran yang telah dipercayakan kepadaku. Ia yang melihatku latian, tertawa dengan aku yang telah mengatakan dialog dengan ekspresi muka yang aku tunjukkan. Ekspresi muka yang kejam dengan satu alis naik. Tetapi ternyata tawa itu ditujukan kepada diriku yang telah salah mengatakan dialog yang telah tertulis di naskah. Sehingga aku sampai mengulangnya sampai 3 kali.
            Kita kemudian menjadi teman dekat entah dari mana asal usulnya. Kedekatakn kita bisa dilihat dengan diriku yang sampai mengantarkannya pulang, ia curhat kepadaku tentang lelaki yang sudah tidak lagi milikinya, dan sebagai orang yang mendengarkan orang yang sedang curhat kepada kita, aku memberinya beberapa saran, aku hanya ingin melihatnya bahagia saat itu. Kita juga sering menceritakan pengalaman-pengalaman kita di masa lalu. Dari pengalaman duka sampai suka kita merasa nyaman untuk menceritakannya. 
Entah pada akhirnya memilih siapa dari para lelaki yang saat ini juga ikut mengejarnya. Tetapi ia juga mengatakan bahwa ia tak mau pacaran terlebih dahulu karena pengalaman dari masa lalu. Itu membuatku untuk tidak memikirkan jatuh cinta dengannya. Jatuh cinta masalah belakang, naksir dan suka dulu agar terhindar dari perasaan-perasaan negatif yang tidak diinginkan. Aku tak tau ada apa yang membuatku merasa beda dengan saat aku mendekatinya dengan saat aku mendekati wanita-wanita lain. Kali ini benar-benar beda, kali ini aku benar-benar ingin membuat kisah yang panjang dengannya. Sebuah kisah yang berbeda dari yang lainnya, tak hanya sebuah kalimat ‘aku cinta kamu’ dengan dibalas ‘aku juga mencintaimu’ tetapi sesuatu yang beda. Kalimat itu yang disampaikan secara tersirat dengan tingkah dan perbuatan kita.

                                                                             ***

Pada saat selesai pentas teater, ia yang melihat pertunjukanku kembali meminta foto denganku diluar panggung seperti saat pertama kali ia menarik perhatianku. Mungkin ia hanya ingin foto dengan seseorang yang memiliki make up yang aneh(?) karena saat itu make up ku memang benar-benar aneh dan bisa dikatakan keren juga. Tetapi kali ini suasana saat aku foto dengannya berbeda, aku merasa begitu bahagia dan itu juga adalah saat yang paling bahagia untukku dengannya. Mungkin rasa bahagiaku berhenti sampai disitu saja. Mungkin puncaknya hanya sampai situ saja. Seperti mendaki gunung yang kita kira masih jauh tetapi ternyata kita sudah sampai dititik paling tinggi dari gunung tersebut.
Sesuatu pasti telah terjadi, saat aku mengupload fotoku dengannya di twitter pada awalnya ia tak berkata apa-apa. Lalu keesokan harinya yang secara tiba-tiba ia memintaku untuk menghapus foto itu dari timelineku. Tak hanya itu tetapi ia juga bersikap beda saat aku ingin kembali dekat dengannya seperti hari-hari sebelumnya. Aku tak tau apa yang telah terjadi padanya yang membuatnya berubah saat dekat denganku, apa yang mungkin telah membuatnya mendapatkan sebuah rasa 'ilfeel' kepadaku. Jadi aku mencoba mencari tau segala macam cara agar aku bisa kembali dekat dengannya. Aku menceritakannya kepada Rani. Mungkin ia tau apa yang membuat Bunga berubah dan menjauh dariku. Aku berharap ia bisa membuatku dan Bunga kembali seperti dulu. Aku mengatakan padanya bahwa aku menyukai Bunga, perasaan yang seharusnya tak aku ungkapkan terlebih dahulu, perubahannya membuatku terus berpikir ‘mengapa?’ Tetapi ia malah berkata padaku, “Lihatlah orang-orang di masa lalumu terlebih dahulu, lalu jika engkau mengerti kau pasti dapat menyimpulkannya.”
Rani hanya memberikanku sebuah petunjuk yang terlalu jelas terpikir olehku dan aku bertanya apakah tebakanku benar lalu ia berkata ‘Iya’. Ia ingin memberikanku bentuan agar aku bisa dekat dengannya lagi tetapi aku menolak, aku harus bisa mengejarnya lagi dengan segala upayaku sendiri. Seperti menangkap layang-layang yang telah lepas dari pemiliknya, kita pasti akan merasa senang dapat menangkapnya sendiri tanpa bantuan dari orang yang lain, apalagi dengan saingan-saingan yang ada, menangkapnya sendiri adalah tantangan tersendiri bagiku.
Jadi aku berusaha meyakinkan Bunga tentang semuanya tanpaku menyatakan rasa sukaku padanya, karena akan egois jika aku mengatakan hal itu kepada seseorang yang telah mengatakan secara langsung bahwa ia tak ingin pacaran terlebih dahulu. Tetapi tetap sama, bahkan lebih parah, ia hanya membalas semuanya dengan kata “iya.” Hal itu membuatku benar-benar kecewa dengan diriku dan dirinya. Mungkinkah semua ini adalah hal yang sia-sia? Mungkin aku saja yang terlalu berharap, mungkin aku saja yang terlalu bodoh untuk tetap mendekatinya dengan semua yang telah ia katakan padaku.
Aku tak tau apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini. Galau? Tidak itu alay, itu hanya kata yang digunakan untuk mereka yang dipatahkan oleh cinta, aku yakin aku belum mencintainya karena cinta yang sesungguhnya adalah perasaan yang dirasakan oleh kedua belah pihak. Bagiku tidak ada cinta bertepuk sebelah tangan, hanya ada rasa suka yang tak dibalas dengan rasa yang sama. Mungkin itu yang terjadi padaku, aku tak tau apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Tetap memperjuangkannya atau pergi darinya dan melanjutkan keseharianku dengan mengingat kesalahan di masa lalu...

          
The End
Thank you for reading, minta kerja samanya ya kalau ada kalimat, kata, atau ejaan yang salah. Terutama diksi yang kurang pas hihi :3

Sabtu, 04 Oktober 2014

Kamu Daripada Permata

Sudut pandang orang pertama lagi, lebih suka menulis cerpen dengan sudut pandang orang pertama
Ohya ini belum sempet diedit, langsung capcuscin, mohon bantuannya kalo ada kata-kata yang kurang pas atau ejaan yang salah

Kamu Daripada Permata

            Keanggunan yang ia miliki memang adalah sesuatu yang tak akan pernah lepas dari sejak kita pertama kali bertemu. Rambutnya yang panjang itu terkena hembusan angin dengan senyum yang sangat indah darinya, kita saling mencuri pandang. Tanpa mengkhiraukan apa yang ada di sekitar kita, tatapan mataku hanya tertuju padanya dan matanya hanya tertuju padaku. Pandangan pertama, awal aku berjumpa, ia kah wanita yang harus aku tulis di lembaran baruku?

            Salah satu hal yang membuatku ingin segera menuju ke tingkat SMA saat aku masih SMP itu wanita seperti dia. Bertemu dengan wanita yang bisa membuat hatiku tergoyah dengan kecantikan yang luar biasa indahnya. Aku mengatakan pada diriku saat melihatnya pertama kali bahwa “She’s mine!” Dia milikku! Dengan mataku yang terus tertuju padanya, aku mendatanginya dengan berlagak keren agar ia terpesona denganku, lalu kukatakan padanya “Hai permata, bolehkah aku berkenalan denganmu?”

            Godaan dari teman-teman yang mengelilingi kita aku hiraukan, tetapi wajahnya yang mulai pucat membuatku langsung mengambil tindakan pertama

            “Namaku Faris, mungkin kamu sudah ada yang memiliki, tetapi seenggknya, ijinkan aku untuk menggenal wanita secantik dan seanggun dirimu.” Aku memperkenalkan dia secara langsung dengan mengarahkan tanganku padanya.

            “Namaku Bella, dan iya aku ada yang memiliki, yaitu orang tuaku” balasnya dengan suaranya yang terdengar merdu olehku, lalu ia menjabat tanganku. Pertama kali aku memegang tangannya yang halus nan mulus itu masih teringat di dalam mind history ku.

            Berawal dari hari pertama mos sampai kenaikan kelas, kita menjadi pasangan yang diidam-idamkan oleh siswa-siswi lain. Cowok setampanku dan cewek secantiknya. Memang kami berdua sering dibicarakan oleh siswa-siswi lain dari sekolah kita maupun sekolah lain. Foto-foto kita berdua yang kita upload di instagram dan sosial media lainnya membuat kita menjadi bahan pembicaraan oleh mereka. Banyak dari teman-teman cewek mengatakan bahwa aku adalah lelaki yang romantis tetapi menurutku aku biasa saja, lalu teman-teman cowok yang terus menanyakan ‘Sudah kau apakan saja Bella?’ Pertanyaan-pertanyaan yang hanya aku balas dengan tawaan.

            Tinggal menunggu pengumuman kelas mana kita akan berpindah, aku hanya berharap bisa sekelas sama Bella sedangkan teman-teman lain pasti aku bisa mengenal mereka dengan mudah ataupun sudah mengenal mereka. Aku hanya ingin merasa lebih dekat dengan Bella. Aku tak ingin lelaki lain mendekatinya ataupun menganggunya. Aku akan menjaganya dimanapun ia berada.

            Suara yang ramai terdengar dari arah madding, aku yakin itu adalah pengumuman kelas, aku langsung memegang tangannya Bella dan mengajaknya untuk melihat.

            “Kamu sekelas sama aku ris!” Kata-kata yang tak ingin kudengar dari suara itu, kata-kata membuat hatiku menangis karena harus sekelas lagi sama dia, orang yang paling menyebalkan di dunia yang pernah aku kenal, Andri. Ia adalah teman pertamaku saat aku berada di sekolah ini, tetapi setelah lama mengenalnya, ternyata selama aku mengenalnya ia hanya memakai topeng. Bella hanya tertawa dan menyuruhku untuk bersabar, lalu aku semakin penasaran siapakah yang akan menjadi teman seruangan denganku selama satu tahun. Aku menyelempitkan diriku agar bisa mencapai tempat terdepan dan setelah aku melihat namaku berada di XI IPA 1 dan Bella tidak sekelas denganku, perasaan hati ini sedih lalu ku mundur keluar dari kerumunan itu.

            “Sudah, gak papa, kita gak sekelas, tetapi aku yakinkan kita masih bisa mempertahankan apa yang telah kita lakukan selama hampir setahun ini, oke Faris?” Suara yang lembut itu menenangkan hatiku, lalu aku mengajaknya untuk pergi jalan-jalan sepulang sekolah karena aku merasa begitu ingin memeluknya. Ia memang membuatku begitu nyaman, dengan kehadirannya saja membuatku merasa tenang.

            Bel berbunyi, kita disuruh untuk memasuki kelas kita masing-masing untuk pembinaan dari wali kelas baru kita dan menyusun pengurus kelas. Ternyata Pak Adi adalah wali kelas baruku, salah satu guru yang aku paling benci di sekolah ini. Ia sering mengatakan yang tidak-tidak kepada guru-guru lainnya yang sampai tersebar ke siswa-siswi juga. Dia adalah guru matematika, cara mengajarnya enak, tetapi caranya bergaul dengan muridnya salah.

            “Faris! Ketuanya Faris aja!” terdengar dari suara seorang wanita, aku kenal suara itu, lalu kutoleh ke belakang. Ternyata wanita itu adalah Maria, teman lamaku yang walaupun satu sekolah sejak SD tetapi hubungan kita tak pernah dekat, mungkin kali ini kita akan mendapatkan kedekatan sebagai teman itu karena ini pertama kali kita sekelas.

            “Loh, kok aku? Aku gak cocok he!” ku coba untuk membela diriku agar tidak terpilih jadi ketua tetapi kata-kata apapun yang kukeluarkan, aku tetap kalah suara.

            Terpaksa aku menjadi ketua di kelas baruku itu. Aku memang ikut dalam osis, tetapi keinginan untuk menjadi pemimpin belum ada pada diriku. Pak Adi lalu membuat kita harus berpindah tempat duduk dan aku duduk di belakang disampingnya Maria. Aku merasa benar-benar sial pada hari itu.

            “Baru kali  ini kita sekelas, sekali sekelas langsung duduk bersebelahan, aneh bukan?” Maria membuat sebuah pernyataan yang aku hanya ku balas dengan sebuah senyuman.
            “Ah gak seru lu, diem aja, bapak ketua itu harus bisa berbaur dengan teman-temannya yang baru, apalagi dengan teman disebangkunya!”
            “Oke Maria, aku ini diem soalnya kesel sama kamu! Gara-gara kamu aku jadi ketua!”
            “Hahaha, suatu saat nanti kamu akan menjadi ketua yang membutuhkan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada saat ini, mungkin saat ini adalah saatnya kamu mulai belajar!” Jawab Maria dengan tertawa yang membuatku berpikir ‘Iya aku harus memulai’

            Mulai dari situ, aku dan Maria menjadi teman yang dekat, bahkan aku kadang-kadang jalan-jalan sama dia tanpa memberitau Bella. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari Maria, ia tidak cantik, tidak manis, tetapi kalau dibilang imut unyu bisa. Tetapi yang benar-benar membuatku lebih dekat dengannya adalah mulutnya yang besar itu, tak ada hari dimana mulutnya Maria terkunci rapat. Mungkin kelebihannya itu lebih aku rasakan daripada kelebihan yang terdapat pada Bella. Aku tak peduli dengan kekurangan, apabila kita menyukai seseorang, lihatlah kelebihannya jangan kekurangannya.

            Dengan Maria, aku merasa menjadi lebih hidup. Aku merasa bahwa setahun yang telah aku lalui bersama Bella, bukanlah diriku yang sebenarnya, tetapi hanya diriku yang memakai topeng. Maria bukanlah wanita anak orang kaya seperti Bella, ia lebih seperti diriku yang hidup sederhana tanpa merasakan kemewahan selayaknya orang kaya. Saat bersama Bella, aku selalu menghabiskan uangku dengan banyak karena selalu pergi ke tempat-tempat yang mewah yang harganya diatas standar. Mungkin biar lebih romantis suasananya tetapi aku selalu berpikir pada awalnya, ini uang orang tua ku yang aku pakai dan uang ini lebih berguna bagi mereka yang hidup di jalanan. Rasa cinta telah membutakan perasaan-perasaanku yang lainnya. Mungkin Tuhan membuatku dekat dengan Maria agar aku bisa mengatur perasaan-perasaan yang ada pada diriku.

            Aku kini bingung dengan perasaanku, aku ingin mengatakan bahwa aku menyukai Maria tetapi aku masih memiliki seseorang yang mencintaiku. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku terdiam dan berpikir di kamar sambil melihat senja diluar jendela. Tiba-tiba Bella menelponku, ia mengajakku untuk makan malam bersamanya, mungkin itulah saatnya. Aku harus mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Bella bahwa aku tak merasakan hangatnya cinta bersamanya lagi.

            Sampai di restoran starlight, restoran bernuansa romance, aku datang dengan begitu gugup karena keinginanku untuk mengatakan semua yang ada dalam benakku. Terlihat Bella sudah duduk manis menungguku, lalu tersenyumlah dia melihatku dan langsung datang memelukku.

            “Sudah lama ya kita gak ke tempat ini? Ingat gak ini tempat pertama kali kita berkencan! Terus kamu kok sebulan ini gak pernah ngajak aku kencan, malah aku yang ngajak, kan tugasnya cowok itu! Tetapi gak papalah, pasti ada sesuatu, ceritakan padaku oke sayang.” Ia langsung mengatakan semua itu setelah melepaskan pelukannya. Aku hanya terdiam tanpa berkata-kata dan duduk ditempat kita. Lalu datanglah sang waitress.
            “Romanchee” Kata Bella kepada pelayan itu, romanche adalah paket menu buat pasangan-pasangan yang ada di situ, harganya 150 ribu, biasanya kami bagi dua atau kadang-kadang aku yang bayar atau dia yang bayar.
            “Jadi Romanche saja.” Kata si pelayan itu
            “Eh, tidak, pesen biasa aja, aku strawberry milkshake aja.” Aku hanya memesan minuman karena uangku yang tidak mencukupi karena tanggal tua dan aku tak ingin menghabiskan tabunganku.
            “Trus makananmu apa syang?”
            “Aku sudah makan, beli minum aja.”
            “Mas, 2 timberloin steak, minumannya sama.” Pesannya kepada pelayannya itu, lalu ia pergi membawa pesenannya kami.
            “2 Timberloin steak? Kamu mau makan dua-duanya?”
            “Enggak satunya buat kamu sayang, aku yang bayar.”
            “Bukan masalah membayar, tetapi aku sudah makan. Ada banyak orang yang lebih membutuhkan makanan itu daripada aku!”
            “Kamu kenapasih, kok jadi marah-marah begini, aku tadi kan nelpon dulu sebelum kita kesini, seharusnya kamu ngerti dong kalo mau makan diluar ngapain makan dirumah!”
            “Karena ibukku masak, aku sudah gak mau meninggalkan makanan ibuku untuk makan diluar dengan membayar dalam jumlah yang mahal seperti ini, belajarlah menghargai bella.”
            “Tapi kan aku nelpon duluan, sudahlah sayang kita nikmati aja makanannya nanti.”
            “Maaf tapi aku gak bisa, aku sudah capek memakai uang yang diberikan oleh orang tua ku untuk membeli makanan yang tak aku butuhkan, aku sudah capek menghamburkan uang bersamamu. Aku bukan orang kaya seperti kamu yang bisa membeli segala macam barang dengan mudah. Aku juga merasa tak seperti diriku setiap saat pergi bersamamu. Aku tertutupi, aku menutupi mukaku, aku memakai topeng saat bersamamu, aku memilih berhenti.”
            “Berhenti?! Seenaknya kamu ngomong berhenti didepanku! Kamu gak ngerti apa yang aku rasakan?! Kamu gak tau aku sudah lama menunggu agar bisa kencan denganmu lagi?! Terus untuk apa aku kesini?! Untuk mendengar kata berhenti darimu?! Tidak!”
            “Maafkan aku Bella, tetapi aku sudah tak bisa bersamamu lagi, aku sudah tak mau mencintaimu lagi.”
            “Ini pasti gara-gara perempuan itu, Maria kan namanya?!” Mendengar ia mengatakan nama Maria aku hanya terdiam.
            “Terserah, tapi aku gak mau berhenti! Ini uangnya kamu gak usah khawatir untuk membayar!” Ia berdiri, berteriak lalu mengambil air putih yang sudah disediakan dan melemparkan isinya kearah mukaku, semua orang melihat kami berdua, aku hanya menunduk dan ia pergi meninggalkanku sendiri dengan uangnya. Aku hanya diam menunduk sambil menunggu makanannya disajikan.

            Tak lama kemudian makanannya datang lalu aku menyuruh pelayannya untuk membungkus makanannya sedangkan minumannya aku minum langsung dua-duanya sampai habis. Aku ingat saat aku bersama Maria, saat aku makan malam bersamanya di warung jalanan lalu minumanku masih tersisah setengah saat aku hendak pergi, ia menyuruhku untuk duduk kembali menghabiskan minumanku. Ia bilang ‘Jangan mubazir, masih banyak orang lain yang ingin meminum minumanmu ini diluar sana.’ Semenjak saat itu aku sudah tak pernah menyisakan makanan dan minumanku.

            Mungkin itu adalah terakhir kali aku minum di restoran itu. Pesenannya aku bayar dengan seluruh isi dompetku lalu aku pergi dengan membawa bungkusan makanan dan uang Bella yang ia berikan untuk membayar pesenan kami, aku pergi ke panti asuhan terdekat yang ada di daerah itu dan memberikannya kepada pemilik panti asuhan tersebut.
            Saat aku menyalakan motor dan hendak pulang, telponku berdering, Maria menelpon.

            “Riss! Cepet kesini! Aku pingin cerita cepetan kerumahku ya!”
            “Ha ada apa?!”
            “Udah cepetaaan aku bahagiaaa bangeet! Buruan ya!” lalu ia langsung menutup.

            Aku penasaran dan segera menuju ke rumahnya. Kenapa ia bahagia? Apa mungkin karena Bella datang kepadanya untuk mengatakan apa yang telah aku katakana padanya? Tetapi tidak mungkin, kalau itu terjadi Maria pasti akan marah kepadaku. Aku berhenti berpikir dan hanya memikirkan jalan tercepat untuk dapat mencapai rumahnya Maria.
            Maria ternyata sudah menunggu didepan teras rumahnya, ia memang terlihat bahagia.

            “Ada apa ri?”
            “Kamu ingat cowok yang aku ceritakan itu kan?”
            “Siapa? Irfan?”
            “Iya cowok ituuu!” Jawabnya dengan tersenyum
            “Kenapa, kenapa, cerita ceritaa”
            “Dia tadi nembak aku di depan teman-temannya!” Saat ia mengatakan itu, perasaan hati ini rasanya seperti tertusuk oleh jarum yang sangat tajam.
            “Nembak? Oh bagus tuh, jadi kamu ini pacaran untuk yang kedua?”
            “Iya kedua, tetapi menurutku ini yang pertama, soalnya dulu saat masih SMP, aku hanya nyoba-nyoba, hehe, jadi itu bukan pacaran yang berdasarkan cinta. Bentar kamu kok bisa menyimpulkan kalo aku menerimannya?”
            “Melihat wajahmu yang bahagia ini , sudah pasti jawabannya iya, aku jadi ikut senang.” Aku teringat oleh sebuah kutipan dalam film Taiwan ‘Kamu benar-benar cinta apabila kamu bahagia apabila orang yang kamu cintai bahagia bersama orang lain’ Intinya seperti itu, tetapi dalam bahagiaku melihatnya bersama orang lain itu juga membuatku merasakan sakit.
            “Hehe, begitu ya, haduh aku senang banget ris, sekarang kita bisa double date!”
            “Double date ya? Haha gak bisa Maria, aku ini aja barusan putus.”
            “Ha? Putus kenapa?!”
            “Aku putus karena aku ingin bersamamu.”
            “Ha? Beneran..”
            “Haha, ya enggak, aku tak menjadi diriku sendiri saat bersamanya, kamu sendiri kan yang bilang kalo menurutmu hubungan yang berlangsung lama adalah hubungan yang apabila dari kedua pihak menjadi diri mereka sendiri, dan kamu menjadi dirimu sendiri kan kalo sama Irfan?”
            “Loh, itu kan hanya sekedar pendapat dariku ris, bukan berarti kamu harus putus sama Bella.”
            “Iya, tapi pendapatmu itu benar, aku tak merasakan kenyamanan bersamanya.”
            “Hmm, yaudah turut berduka yaa”
            “Haha seperti ada yang meninggal aja, sekarang pesan-pesanku buat kamu bersamanya”
            “Yeaaaa pesaaan!”
            “Pesanku sih simple dan tidak panjang, karena kamu membuatku menjadi orang yang lebih baik, kamu harus membuatnya menjadi lebih baik, kamu turuti omongannya yang baik-baik dan jangan turuti yang jelek, seberapapun dia mencintaimu, kamu harus bisa membalasnya, tidak dengan cara yang tidak benar, tetapi hanya dari hati, buatlah dia menjadi orang yang lebih dewasa, karena tujuan itulah kenapa orang-orang berpacaran, untuk menjadi lebih dewasa, kamu juga jangan pernah lupa sama teman-temanmu, kamu harus bisa membagi waktu pacaran sama waktu bersama teman, waktu bersamaku, haha, karena kamu udah punya pacar sekarang, sepertinya aku harus mulai menjaga jarak hehe.”
            “Simple dan tidak panjang ya? Haha makasih ris, kamu gak usah khawatir, aku masih pingin bisa dekat dengan kamu, Irfan orangnya baik, dia tidak mungkin marah gara-gara aku dekat sama kamu, dia tau aku deket sama banyak cowok, tapi aku akan selalu menunjukan kalau aku punya pacar, jadi jangan khawatir, aku gak mungkin menduakannya, haha.”
            “Ya gak mungkinlah ya, aku percaya bahwa kalian bisa saling menjaga, hmm udah malem nih rii, kamu nelponnya malem-malem siih, jadinya kita gak bisa berbicara panjang lebar.”
            “Haha iya maaf, aku baru beli pulsa, dibeliin lagi hehe”
            “Sama Irfan ya? Haha, yaudah aku balik dulu ya, ingat pesan-pesanku ya, jangan hanya didengarkan lhoya.”
            “Oke oke siap bapaak.”
            “Yaudah aku pulang dulu ya, sampai ketemu lagi”
            “Hati hati ris!”

            Ternyata orangtuaku sedang menungguku dirumah, ayahku mendapat pekerjaan di Malang yang menjanjikan. Orang tuaku bertanya apakah aku ingin ikut pindah ke Malang atau melanjutkan sekolah dulu sampai selesai. Kebetulan saat itu sedang liburan semester, jadi aku tidak akan ketinggalan pelajaran. Aku memikirkannya dengan baik-baik, mereka memberiku waktu sampai besok pagi karena kita akan berangkat minggu depan. Mereka akan mencari sekolah baru apabila aku ikut dengan mereka.

            Sudah tidak ada lagi yang tersisa untukku disini. Jika aku terus di Jakarta, semangatku pasti akan menurun, mungkin ini adalah saatnya aku berpindah dan mencari teman-teman yang baru. Lagian aku kekurangan teman akibat dari berpacaran dengan Bella. Setahun aku selalu mementingkan dirinya daripada teman-temanku. Ini adalah saatnya perubahan, semua perasaan sudah aku utarkan kecuali perasaanku pada Maria. Aku harus mengatakannya sebelum aku pergi ke Malang.

            Keesokan harinya, aku sudah membuat kepastian untuk mengikuti orangtuaku ke Malang.  Secara otomatis aku harus berpamitan kepada teman-temanku. Jadi setelah beres-beres aku pergi jalan-jalan bersama teman-temanku, aku saat itu ingin mentraktir mereka makan dan ayahku memberi uang terakhir untuk hidupku di Jakarta. Maria ikut bersama Irfan dan aku hanya bisa melihat mereka dengan cemburu tersimpan dalam hati.

            Saat aku pulang, ayahku bertanya apakah aku ingin mengikutinya besok ke Malang untuk mencari rumah baru. Ia tak mengajak ibu dan adikku karena masih ada yang harus di bereskan. Lalu aku memutuskan lagi untuk ikut. Mulai besok aku akan meninggalkan teman-temanku. Jadi sebelum besok terjadi, aku ingin mengutarkan seluruh perasaanku pada Maria. Karena ia sudah memiliki Irfan, aku mengutarkannya melalui tulisan yang akan kuberikan pada kakaknya Maria.
            
Isi surat itu
            Dear Maria, 
         Asiik pakai ‘dear’ haha, mungkin ini adalah kenangan terakhirku dari Jakarta, Ini akan menjadi surat terpenting yang pernah aku tulis di masa SMA ku ini, masa SMA yang tak dapat aku benar-benar nikmati. Ada sebuah rasa yang terpendam di dalam diriku yang belum aku sampaikan padamu, aku ingin mengatakannya saat aku putus dengan Bella, karena itu mungkin ini adalah perasaan teregois yang pernah aku miliki, perasaan itu adalah aku mencintaimu Maria. Aku bukan penulis yang handal, aku hanyalah seseorang siswa biasa yang nilai bahasa Indonesianya selalu dapet nilai pas. Aku ingin berterima kasih padamu, satu semester yang aku dapatkan denganmu benar-benar membuatku berubah dan membuatku lebih mengerti siapa diriku yang sebenarnya, seandainya kita sudah lebih dekat sejak kita pertama kali satu sekolah sejak kelas 6 sd, aku pasti sudah mencintai dan menyampaikan perasaanku padamu. Tetapi aku terbodohi oleh penampilan, aku selalu melihat wanita dari kecantikannya, ini bukan berarti kamu gak cantik lhoya, hehe. Menurutku kamu imuuut dan unyuu abiss, haha. Aku bodoh Maria! Aku selalu memilih permata! Aku memilih permata yang tak bisa aku olah. Kalau saja aku bisa tau arti cinta yang sebenarnya sebelumnya aku pasti akan memilih kamu daripada permata. Kamu itu bukan permata, tetapi kamu lebih seperti bulan yang menerangi kegelapanku. Diriku tanpa kamu hanyalah malam tanpa ada yang menerangi. Bintang-bintang saja tak cukup, aku butuh rembulan sebagai penerang terbesar di malam hari. Aku menginginkanmu Maria. Sekarang kini kau bersama Irfan, aku hanya bisa berharap kepadamu kebahagiaan dengannya. Jaga dirimu ya Maria. Kau memang spesial dan Irfan lelaki yang beruntung bisa memilikimu, sampai jumpa lagi ya Maria, aku mencintaimu.

Surat itu aku berikan kepada kakaknya pada keesokan harinya pada pukul 6 pagi, satu jam sebelum aku berangkat. Maria yang saat itu sedang tidur tak tau bahwa aku berada di depan rumahnya bersama kakaknya.
            Saat aku pulang, aku dengan keluargaku langsung pergi ke stasiun kereta api. Aku berpamitan kepada Ibuku dan adikku. Aku dan ayahku mendapatkan tempat di kelas bisnis, ini semua berkat kerja keras ayahku.

            5 menit lagi dan aku akan meninggalkan Jakarta bersama dengan kenangannya, aku melihat seseorang wanita memakai jaket hitam yang sepertinya masih memakai baju tidur nya. Itu adalah Maria, ia sepertinya berlari mencariku. Aku bilang kepada ibuku untuk membawa Maria datang ke sini. Maria menengok ke arah ibuku dan berlari ke arahnya. Kereta sudah mulai bergerak, hanya kaca jendela yang memisahkan kita. Aku melihatnya membawa suratku dan meneteskan air mata, aku melihatnya seperti mengatakan sesuatu tetapi aku tak tau apa. Keretanya sudah mulai berlaju dengan cepat dan aku tak tau apa yang Maria ingin katakana saat itu.


            Aku hanya berdiri melihatnya bersama ibuku dan adikku mengejar kereta sampai mereka tak terlihat lagi. Apakah kata-kata terakhir dari Maria?

The End

Rabu, 24 September 2014

Naskah Matinya Seorang Demonstran

Matinya Seorang Demonstran
Cerpen karya Agus Noor
          Suara gemeruh dan suasana yang mencekam terlihat diatas panggung, demo yang dilakukan oleh para mahasiswa dan demonstran lainnya membuat aparat kepolisian mengharuskan untuk turun tangan dengan tujuan membubarkan massa demonstran tersebut. Secara tak sengaja seorang polisi menembaki pistolnya agar massa terdiam tetapi malah mengenai seorang mahasiswa yang tidak terlibat dalam demo itu. Panggung kembali ke dalam keadaan gelap seperti semuanya telah berakhir, tetapi itu hanyalah awal dari segalanya

            Ratih bersama Arman, pacarnya dan bersama teman-teman lainnya seusai pulang dari kuliah, duduk di jalan yang masih belum memiliki nama itu.
Arman : Gimana kamu tadi kuliahnya?
Ratih    : Dosennya mangkelin sih, aku minta pendapatnya gak dijawab-jawab, padahal penting buat skripsi.
Arman : Kok gak mau jawab? Kamu nanya nya paling diwaktu yang gak tepat.
Ratih    : Hmm… Mungkin sih, hehe. Tadi Pak komsin, dosenku itu memang lagi menangani banyak mahasiswa, tapi sebelumnya aku sudah bilang ke dia, kalo aku mau minta pendapatnya saat pulang, eh malah ngurusin yang lain.
Arman : Kenapa gak nunggu sampai ia selesai?

Lalu pembicaraan mereka berhenti saat dua temannya Ratih menggoda mereka berdua

Maria  : Eh Leyla, gimana kamu tadi kuliahnya?
Leyla    : Dosennya mangkelin siih, akua aminta pendapatnya gak dijawab-jawab, padahal penting buat skripsikuu,
Maria dan Leyla tertawa
Maria  : Sepertinya di cuaca seperti ini enak pegangan tangan ya la?
Leyla    : Iyaa, penting buat kehangatan nih, apalagi kalau peluk, pasti enaak

Ratih    : Hush, hush kalian itu ngapain sih, udah pergi dulu sana nanti aku mau ngmong ke kalian berdua!
Maria  : Ayo la, calon istri anak colonel marah
Leyla    : Iya, ayo kita pergi sebelum ditembakki calon mertuanyaa

Maria dan Leyla pergi meninggalkan panggung

Ratih    : Haduh maaf ya man, mereka memang usil gitu


Arman : Gak papa kok tih, para nyamuk sudah pergi, sekarang tinggal aku dan kamu disini, kalau saja setiap saat seperti ini, aku pasti senang sekali.
Ratih    : Iya aku pasti juga senang, aku ingin selamanyaa berdua bersama kamu menikmati jalannya hidup
Arman : Haha, jalan hidup bersamaku pasti kau akan merasakan kebahagiaan yang tak terhingga senangnya, walaupun kita nanti bertengkar terus diam-diam an tapi aku yakin kita masih bisa kembali menyatu dan mengatakan bahwa aku cinta kamuku
Ratih    : Mencintaiku? Ngomong soal cinta, mengapa kau begitu mencintaiku cintaku?
Arman : Kenapa aku begitu mencintaimu? Coba kamu melihat ini (menunjukan tab) dan apa yang aku lihat?
Ratih    : Hmm, seorang wanita biasa yang hidupnya biasa biasa aja
Arman : Haha sudah kutebak kau akan menjawab seperti itu, andaisaja kau bisa melihat apa yang aku lihat saat ini, pasti kau tak akan segan-segan untuk lebih mencintai dirimu.
Ratih    : Bisa ajaaaa maaaan, udah udah hentikan semuanya, kau terus membuatku tersipu malu, bagaimana tadi kuliahmu?
Arman : Kuliah? Ohya aku kan ada tambahan mata kuliah, sekarang jam berapa?
Ratih    : Hmm jam …
Arman : Waduh gawat, aku terlambat, sayangku, cintaku, gilaku, honeyku, bebebku, aku pergi kuliah dulu ya, gak papa kan ya maaf syang, I love you
Ratih    : Haa, selalu kan, yasudah I love you too
Sebenarnya Ratih sudah tau bahwa Arman ada tambahan mata kuliah, sehingga ia berencana untuk bertemu dengan Eka di jalan itu saat Arman sedang berkuliah.

Tak lama kemudian Eka datang dengan membawa bunga untuk Ratih,

Eka      : Hai manisku
Ratih    : Hai pangeranku
Eka      : Aku tadi melihat bunga ini dijalan, aku membelinya karena terlihat indah, tetapi aku bukan orang yang suka menyimpan bunga, jadi sepertinya bunga ini harus kuberikan kepada orang yang terlihat indah pula. Maukah kau menerima bunga ini dariku ini Ratihku?
Ratih    : Tak ada alasan untukku menolak bunga yang engkau hendak berikan kepadaku, terima kasih pangeranku
Eka      : Sama-sama cintaku, ohya bagaimana tadi kuliahnya?
Ratih    : Berjalan lancar aja sih, walaupun ada sedikit kendala yang aku dapatkan
Eka      : Kendala?
Ratih    : Iya kendala untuk menghubungimuu


Eka      : Mengapa kau harus menghubungiku? Bukankah sudah kubilang, saat kamu kuliah, kamu tidak usah mengkhawatirkanku, kalau kau mengkhawatirkanku, rasakan keberdaanku dihatimu.
Ratih    : Tetapi aku kangen kaa, aku kangen mendengar kata-kata yang begitu puitis darimu, kata-kata yang bisa memotivasiku untuk kuliah dengan senang, kata-kata yang membuat kehidupanku tidaklah hanya lapangan hijau yang datar.
Eka      : Kangen, aku juga kangen Ratih, tetapi aku harus tegaskan, mengapa kita bertemu sekarang menjelang malam jumat dan tidak pada malam minggu, malam minggumu sudah milik orang lain dan aku tak berhak mengganggunya. Seorang yang bahagia adalah seorang yang diberi kesempatan memilih dalam hidup. Maka aku memberimu kesempatan agar kamu bisa memilih sendiri kebahagiaanmu. Tak perduli, apakah bagimu nantinya aku pilihan kedua atau pertama.
Ratih    : Tunggu, jadi kamu tau aku sudah punya pacar?
Eka      : Kalau perempuan semanis kamu tidak punya pacar, pasti ada yang salah dengan selera semua laki-laki di dunia ini.
Ratih    : Dan kamu gak merasa cemburu marah atau apa itu?
Eka      : Sebenarnya saat pertama kali aku kenal denganmu, aku berusaha mencari informasi darimu yang sebanyak-banyaknya agar aku bisa bersama denganmu dalam keadaan yang nyaman, jelas aku cemburu, tapi aku tau aku tak berhak untuk memiliki perasaan itu.
Ratih    : Maafkan aku ya Eka, aku seharusnya memberitaukan kepadamu sebelumnya
Eka      : Tidak, akulah yang seharusnya meminta maaf, aku sudah tau engkau adalah milik orang lain tetapi tetap saja aku mendekatimu

Maria ternyata lupa bahwa headset nya masih dibawa Ratih, ia berlari kembali untuk mencari Ratih, lalu ia kaget melihatnya bersama lelaki lain.
Mariapun memasuki panggung seperti orang yg sedang lewat lalu pura-pura batuk hingga duduk diantara Ratih dan Eka

Maria  : Waduuh mas mbaak, maaf ya, tapi aku kalau batuk terus seperti ini harus duduk diantara dua orang agar cepat redaah
Eka      : (menunjukan ekspresi muka bertanya pada Ratih “temanmu?”)
Ratih    : (ratih membalas dengan muka kesal dan mengganguk)
Eka      : Yaudah ratih, aku mau pergi beli makan dulu ya
Ratih    : Oiya ka, gak papa kok, aku biar disini dulu sambil nunggu temanku
Eka pergi meninggalkan panggung
Ratih    : Kamu ini apa sih! Nganggu orang aja!
Maria  : Kamu ini yang gimana?! Tadi berduaan sama Arman, sekarang sama lelaki lain? Mau jadi playgirl sekarang?
Ratih    : Bukan gitu ria, seharusnya aku bercerita dari dulu dari sejak pertama kali aku bertemu dengannya kepadamu, memang salahku aku tak cerita.
Maria  : Iya! Kamu kok gak pernah cerita tentang dia! Siapa dia?! Siapa namanya?!
Ratih    : Duuh, diam ria, akan aku jelaskan semuanya, namanya Eka, dan alasanku mengapa aku tak pernah bercerita tentangnya kepadamu adalah karena Eka adalah seorang aktivis, demo-demo yang sedang banyak terjadi banyak direncanakan dan diatur oleh Eka.
Maria  : Ehhh! Kok kamu mau sama orang seperti itu! Hidupmu bisa jadi dalam bahaya sekarang karena dia!
Ratih    : Kan aku tau kamu pasti akan berkata seperti itu, itulah mengapa aku tidak bercerita tentangnya kepadamu
Maria  : Hehe maaf, tapi ini kan juga buat kebaikanmu, lalu atas dasar apakah yang membuatmu menduakan seorang anak dari kolonel?
Ratih    : Aku gak pernah ada niatan untuk menduakannya, aku juga pada awalnya tidak ada niatan untuk dekat dengan Eka. Tetapi dengan Eka, aku belajar bahwa dalam hidup kita harus memiliki sesuatu untuk diperjuangkan sedangkan dengan Arman, aku bisa merasakan nikmatnya hidup.
Maria  : Yaudah, biar lebih mudahnya seperti ini, positif dari Arman dan Eka kamu cerna lagi dan kamu pikirkan matang-matang, manakah yang lebih banyak positifnya dan benar-benar bisa membuatmu meraskan kebahagiaan.
Ratih    : Aku tak tau Maria, Eka sudah tau bahwa aku memiliki pacar, tetapi ia tetap saja mendekatiku, dan apabila Arman tau tentang hubunganku sama Eka, pasti ia akan marah habis-habis an kepadaku, cinta dari mereka berdua terlalu tulus hingga selalu membuatku bingung!
Maria  : Tetapi kamu pada akhirnya harus milih Eka atau Arman, kau tak bisa terus melakukan ini, kau tak boleh memainkan hati mereka berdua.
Ratih    : Kau benar Maria, aku harus memilih, aku harus memilih…
Maria  : Pikirkan dengan baik-baik ya Ratih, sekarang bolehkah aku meminta headsetku kembali?
Ratih    : Headset? Ohya sampai lupa aku ri, maaf ya riaa hehe
Maria  : Gak papa kok, yaudah kamu gak pulang tih? Atau masih mau nunggu temenmu?
Ratih    : Ya temenku itu kamu mariaa
Maria  : Hehe iya tau kok tih

Mereka berdua pun pulang dan tiba-tiba beberapa mahasiswa berlari ke atas panggung dan bersembunyi dibalik kursi-kursi, seorang polisi sedang mengejarnya. Polisi itu tak menemukan mereka lalu pergi meninggalkan panggung.

Indah   : Alhamdulilah, dia gak menemukan kita
Tata     : Iyaaa, untung aja, coba kalau ketauan, kita bisa dihajar habis-habisan seperti yang terjadi pada Rizal.
Rani     : Iya kasian Rizal, padahal ia hanyalah pemotret, ia dihajar langsung oleh puluhan aparat, dan kamera yang telah ia beli dengan tabungan separuh hidupnya hancur diinjak dan dibanting oleh aparat.
Tata     : Kita harus bilang ke Eka, kita harus mencari cara untuk membebaskan kawan-kawan kita
Indah   : Iya aku sudah sms ke Eka, aku menyuruhnya untuk bertemu dengan kita disini
Rani     : Baik, ini benar-benar sudah keterlaluan
Tata     : Ini sudah melewati batas HAM!

Eka datang dengan tergesa-gesa

Eka      : Ada apa?! Apa yang terjadi?!
Indah   : Aparat ka! Mereka benar-benar sudah keterlaluan!
Eka      : Apa?! Ada apa sebenarnya!
Rani     : Mereka menghajar Rizal, kamera nya rusak, dan kini ia ditahan oleh mereka!
Tata     : Iya ka, dan juga bersama banyak mahasiswa lain ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara
Eka      : Kalau dihajar itu tidak bisa diterima, tetapi penjara… Penjara akan membuktikan tangguh tidak nya mereka. Lagi pula, penjara justru meningkatkan martabat para pembangkang. Tetapi kita tetap harus berusaha untuk membebaskan kawan-kawan kita mana Toriq?
Indah   : Ia dalam perjalanan ke sini… Lha itu dia
Eka      : Toriq! Bagaimana, kamu kan intel militer, kamu bisa membebaskan kawan-kawan kita?
Toriq    : Bisa, saya bisa, tetapi waktunya tidaklah cepat, prosesnya lama, dan resiko yang akan kita tanggung sangatlah berat
Eka      : Apapun resikonya, yang penting untuk kemajuan negara kita ini!
Toriq    : Iya dan bagaimana dengan besok? Apakah benar kita akan melakukannya di jalan ini?
Eka      : Iya kita tidak boleh tetap di satu tempat, kita harus membuat aparat kebingungan.
Rani     : Jadi besok kita mulai dari pagi?
Tata     : Kenapa? Kau takut?
Rani     : Ya tidaklah, malah bersemangat
Eka      : Bagus, kita harus tanamkan semangat dalam diri kita dulu sebelum memulainya, Jadi kalian siap-siap dengan mengumpulkan massa yang lebih banyak, kali ini kita harus berhasil.
Lainnya: Siap!
Toriq    : (saat lainnya pergi) tadi aku bertemu dengan ratih, ia bilang akan segera datang kemari.. nah itu dia, biar kutinggalkan kalian berdua
Ratih    : Eka, apa ini harus?
Eka      : Iya, sudah kupikirkan dengan matang-matang
Ratih    : Eka! Sudahlah kita hentikan semua ini! Aku lihat apa yang aparat lakukan! Hal itu tak boleh terjadi padamu!
Eka      : Ratih… Dengarkan
Ratih    : Tidak! Kamu mau jadi pahlawan! Sudahlah hentikan apa yang kamu lakukan ini!  Aku tak mau kehilangan kamu! Masa depanmu masih panjang! Pikirkan apa yang akan terjadi, pikirkan apa yang orang tua akan katakan padamu! Pikirkan apa yang akan aku rasakan Eka!
Eka      : Sudahlah ratih cukup! Aku sudah memikirkannya baik-baik, aku tak ingin jadi pahlawan! Pahlawan hanyalah pecundang yang beruntung! Aku mencintaimu ratih, kamu jangan khawatir aku pasti akan kembali.
Ratih    : Berjanjilah padaku, berjanjilah bahwa besok kamu akan kembali menggenggam tanganku lagi seperti ini.
Eka      : Aku janji Ratih, karena aku mencintaimu
Ratih    : Aku juga mencintaimu eka
Eka      : Maukah kau kuantarkan pulang?
Ratih    : Terima kasih Eka, tetapi aku akan bertemu dengan Arman disini.
Eka      : Ohh begitu, sebaiknya aku segera pergi.

Eka lalu pergi meninggalkan Ratih

Ratih    : Aku memilihmu Eka … Kamulah yang terbaik untukku

Arman pun datang

Arman : tih, ada apa denganmu, mengapa kau terlihat sedih
Ratih tak menjawab dan terdiam memikirkan apa yang harus ia katakana

Ratih    : arman ada sesuatu yang harus aku katakan padamu
Arman : berhenti, sebelum kita lanjut ke situ, tolong buat aku agar bisa membuatmu senang, berdirilah

Armanpun mengajak Ratih untuk berdansa dan Ratih tampak senang kembali

Arman : Sudah baikan? Jadi tadi kamu mau ngomongin apa?
Ratih    : Tadi? Oh gpp lupakan
Arman : Beneran ratih, pasti ada sesuatu
Ratih    : Bukan, ini hanya masalah demo nya itu, kamu jangan ikut ya
Arman : Ratih, kamu lupa ayahku seorang kolonel angkatan darat? Ya jelasnya kalau aku ikut pasti akan sangat membuat ayahku kecewa dan aku tak ingin hal itu terjadi, jadi apakah aku akan ikut demo? Tidak mungkin.
Ratih    : Oke aku senang kamu tidak mengikutinya, ini sudah mulai malam, sebaiknya kita pulang
Arman : Biarkan aku mengantarmu dengan mobil baruku
Ratih    : Makasih ya Arman

Keesokan harinya saat demo akan dimulai, Eka yang sedang merencanakan demo nya sendiri di jalan itu ditangkap oleh aparat dan dibawa pergi, sedangkan Arman yang hendak menjemput Ratih, tertembek oleh peluru nyasar. Jalan itu dinamakan jalan mularman, nama lengkap Arman yang dianggap sebagai mahasiswa yang meninggal akibat demo tersebut. Mereka menganggap bahwa ia adalah pahlawan dari mahasiswa yang memberanikan diri hingga tertembak oleh peluru. Sedangkan Ratih meninggalkan kota tersebut agar ia bisa melupakan segala kenangan yang ada dan hanya kembali untuk menjenguk ibunya.


Rabu, 26 Maret 2014

Malam Ritual Chapter 4

(Gak sempet ngedit, jadi kalo ada kata-kata, ejaan, pemilihan kata yang kurang pas, tolong hubungin gue ya, mohon kerja samanya *Smily Face* pin: 3287943A)


Malam Ritual Chapter 4


Jam tangan tertunjuk Pukul 10.36 sesampai dirumahku, memang rumahku dengan rumah Azizah membutuhkan sekitar 30 menit dengan kecepatan standar menggunakan motor. Apalagi Hadi, rumahnya lebih jauh lagi walaupun hanya membutuhkan 15 menit jalan bagiku. Jalanan tampak sepi, sepertinya semua sudah terlelap dalam tidur mereka. Rumahku yang hanya terdapat satu lampu menyala mengingatkanku lagi saat berada di dalam rumah sakit kecil dalam malam yang horror seminggu yang lalu.

~|~|~

Saat Rizal hendak memberikanku roti, ia terdiam melihatku yang saat itu sedang melihat kuntilanak itu melihat kita. Atau mungkin kuntilanak itu melihat Rizal, Rizal melihatku dan aku melihat kuntilanak itu? Tatapan segitiga? Rizal lalu menoleh ke arah kemana aku melihat sambil mengunyah roti dimulutnya. Ia malah mendekat ke arah jendela dan membukanya

“He Kuntil! Mau makan juga lu? Tapi pala lu pasang dulu yang bener! Haha!” Rizal mengatakan itu dengan senang hati, ia bercanda kepada sang kuntilanak. Kuntilanak itu tak membalas, ia hanya berjalan mundur ‘Fade Out’ dan menghilanglah dia lagi dari kita. Ku ambil roti yang sedang dibawa oleh Rizal di tangan kirinya yang sebelumnya hendak diberikannya kepadaku. Kita berdua memakan roti itu secara perlahan menghilangkan rasa lapar kita di ruangan berdarah itu. Sambil berbincang kita mendapat pikiran untuk tidur di ruangan itu sampai pagi tiba, saat itulah kita baru mencari pertolongan. Suasana yang gelap dan sunyi saat itu tidak memungkinkan bagi kita untuk mencari pertolongan. Tetapi karena ruangan itu berdarah, kita mencari ruangan lain untuk kita gunakan sebagai tempat tidur sementara. Dengan hanya menggunakan flashlight kecil untuk menerangi jalan. Kita memilih untuk tidur tepat disebelah ruangan berdarah itu.

Rizal membuka pintu itu dengan perlahan dan saat terbuka lebar. Ruangan itu begitu gelap. Kita tak bisa melihat apapun, lalu Rizal mengarahkan flashlight nya ke segala arah dalam ruangan itu. Ternyata ruangan itu lebih mengerikan daripada ruangan berdarah. Ruangan ini ruang gantungan, iya… ada 6 orang perempuan telanjang terpancung di ruangan itu. Dengan gambar sebuah lingkaran segitiga di tengah setiap perut dan dahi perempuan-perempuan itu. Aku hanya dapat menutup mulutku agar tidak teriak. Sudah tidak ada gunanya lagi berteriak. Itu hanya akan menghabiskan tenaga. ‘Sebuah Ritual’ Terkatakan oleh pikiranku. Rizal kemudian langsung menutup pintu ruangan itu.

“Kita cari ruangan lain aja, ruangan itu lagi kotor.” Kata Rizal kepadaku dengan ekspresi seolah tak melihat apa-apa. Kami berdua kemudian berjalan menyisiri lorong rumah sakit itu, melihat apakah ada hal yang sama seperti dikedua ruangan sebelumnya. Sampai akhirnya kita menemukan sebuah sofa, yang tampaknya bersih dari debu. Jendela diatas sofa sedikit menerangi tempat itu, sehingga kami berpikir untuk istirahat disitu menunggu kedatangan terbitnya sang matahari.

Tetapi saat kami duduk di sofa itu dan lampu mengarah ke depan. Begitu banyak penampakan yang terlihat dari mata kita. Sofa yang terletak di ujung lorong rumah sakit itu begitu nyaman, begitu pula dengan pemandangan yang terlihat dari kita. Seringkali terlihat bayangan-bayangan putih yang berterbangan mengelilingi lorong itu. Tampaknya makhluk yang tak dapat dilihat oleh mata manusia biasa sedang beraktivitas di malam hari. Pada saat itupun aku berpikir, apakah mereka melihat kita? Karena semua bayangan yang lewat tak mengarah kepada kita.

Mata rizal tampaknya sudah tak tahan lagi untuk tetap terbuka. Ia tertidur terlebih dahulu. Sedangkan aku tak berani tidur, melihat bayangan-bayangan putih berkeliaran. Suara-suara yang terdengar juga begitu menyeramkan. Suara tawa seorang wanita, tapi tak ada wanita di situ. Suara tangisan bayi, tapi tak ada bayi disitu. Saat itupun aku bernostalgia untuk sesaat mengingat kata-kata Hadi. ‘Bayi adalah salah satu hal yang paling lucu di dunia ini, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang sangat menyeramkan apabila terdengar sebuah tangisan bayi disaat dirumah sendiri dan tidak ada bayi yang tinggal disitu’

Kini aku menghadapi kenyataan itu. Kedua tanganku menutupi kedua telingaku, tetapi tetap saja terdengar. Aku tak tahan, inilah saatku tuk melawan pikirku. Aku harus mencari sumber suara tangisan bayi tersebut. Aku mengambil HP dengan flashlight itu dan memberanikan diri. Seluruh tubuhku merinding bergetar, saat aku berdiri. Lalu aku coba hilangkan semua rasa takutku laluku berjalan dengan tegak. Sudah muak aku berjalan dengan perlahan. Inilah saatku beraksi. Jadi aku semakin mempercepat langkahku kepada sumber suara tangisan bayi dan tawa seorang wanita.

Ternyata suara itu mengarah ke sebuah ruangan. Ruangan itu adalah ruangan jenazah. Seluruh tubuhku kembali merinding bergetar. Aku mulai ‘perlahan’ lagi. Aku membuka pintu ruangan jenazah itu dengan perlahan dan terlihat seorang wanita. Itulah kuntilanak nya, bentuknya berbeda dari yang sebelumnya. Ia tak setinggi kuntilanak yang telah menghantui kita sebelumnya. Aku hanya dapat mengucapakan kata ‘Halo’ Ia lalu tertawa lagi dan menghadap ke arahku. Ia menggendong sebuah bayi, bayi yang tampaknya penuh dengan darah. Ia hanya menatapku lalu terdiam. Sedangkan disaat aku berusaha mendekatinya, niatku bersalaman dengannya. Ia malah menghilang dan tertinggalku sendiri dikelilingi oleh mayat-mayat yang terdapat di ruangan itu.

Aku berhasil! Itulah yang terucap dalam pikiranku. Aku tak pernah merasa begitu bahagia dalam suasana yang begitu menyeramkan. Aku berhasil melawan rasa takutku, aku telah berubah. Tak ada yang bisa menghentikanku lagi. Aku dengan rasa bangga kembali ke Rizal. Melewati bayang-bayang putih, itu tak menakutiku lagi. Aku berjalan selayaknya seorang yang sedang dalam keadaan normal. Tiba-tiba suara teriakan terdengar lagi.

“Randi! Cepat kesini, Hadi ada disini!” Itu suara Rizal dari arah luar rumah sakit. Ia meneriakan bahwa Hadi ada disitu. Tetapi aku terbingung, bukannya Rizal tadinya tertidur lelap di sofa. Lalu aku mendengar sebuah teriakan lagi

“Randi! Jangan keluar, kembali ke sini! Aku juga mendengar diriku!” Suara Rizal lagi terdengar, tetapi kali ini dari arah menuju sofa. Aku makin terbingung lagi, bagaimana bisa ada dua suara yang sama dari dua arah yang berbeda.

“Randi, keluar disini ada Hadi! Cepat keluar, ada yang meniru suaraku! Jangan ikuti dia!”
“Randi, cepat kembali ke sofa! Yang diluarlah yang meniru suaraku!” Suara teriakan terus terdengar dari suara Rizal dari dua arah yang berbeda. Padahal Rizal tidak memiliki kembaran dan adiknya semua perempuan. Ini adalah sesuatu yang begitu mustahil. Aku berdiri ditempat, berpikir kearah manakah aku harus melangkah.

~|~|~


Ke arah manakah aku harus melangkah? Dengan satu lampu yang bersinar, oh itu lampu ruang tamu. Pulang malam, ucap salam, nuju kamar mandi, sikat gigi, lalu berbaring di tempat tidurku. Oooh hari yang begitu melelahkan tetapi pada akhirnya juga ya tidak ada hari yang lebih melelahkan daripada kejadian seminggu yang lalu.

To Be Continued