A Little Introducing

Malang, Jawa Timur, Indonesia
Birth name Ilham Rianto. Im just an ordinary guy with some ordinary writings who one day will be a movie director.

Rabu, 19 Februari 2014

Tangisan Sahabat


Kejadian ini lebih dari setahun yang lalu jadi gak 100% benar, semua namanya aku ubah kecuali namaku sendiri, tetapi ambil aja inti ceritanya oke, kalau ada salah penulisan kata atau ejaan yang jelek

 Tangisan Sahabat

Semua orang pasti memiliki sahabat, seperti yang seharusnya anda tau, bagaimana seorang bisa hidup tanpa sahabat? Sahabat-sahabat yang memiliki karekteristik yang berbeda-beda yang apabila kita berkumpul dapat melengkapi satu sama lain. Aku punya seorang sahabat cowok sebut saja namanya yoga dan dia sedang mengalami kisah cinta dengan seorang gadis yang akhirnya juga menjadi sahabatku juga, Indah. Aku melakukan berbagai cara sebagai seorang sahabat agar dapat mendekatkan mereka berdua. Seperti menggoda saat bertatapan, mengatakan kelebihan-kelebihan yoga dengan indah, pokoknya memberi motivasi untuk mereka berdua agar mereka bisa menjadi satu yang akhirnya semua itu tidak berjalan dengan sia-sia. Mereka kini bersama, saling mencintai berpacaran lebih dari 2 tahun mungkin sekarang. Gue benar-benar salut sama mereka bisa langgeng sampai satu tahun padahal masih anak SMP. Karena anak smp biasanya labil-labil, 2 tahun itu benar-benar wow.  

Semua hubungan pasti tidak ada yang begitu mulus tanpa ada goresan dalam hubungan itu. Sebuah tangisan dalam suatu hubungan cinta adalah bekas dari sebuah goresan. Seperti suatu saat aku berdua dengan Indah. Karena pacarnya adalah sahabatku, ia memilih untuk mengatakan curhatannya kepadaku pertama. Saat itu saat pulang sekolah ia menyuruhku untuk tidak pulang terlebih dahulu setelah kegiatan ekskul kita selesai. Dan saat kita tinggal berdua disekolah kata-kata pertamanya adalah “Aku gak kuat ham” Lalu ia terdiam dan bersandar di pundakku. Setelah itu suasana menjadi hening karena aku tak tau harus berkata apa kepadanya mengetahui aku pernah menyakiti perasaan seorang perempuan juga. Sebuah tetesan air lalu terasa di pundakku. Saat itu adalah pertama kali aku merasakan sebuah tetesan air mata yang bukan milikku yang berasal dari sebuah perasaan hati. Aku langsung menoleh kepadanya ia menangis lalu melanjutkan berkata-kata “Kenapasih ia tetep aja tidak bisa menghargai apa yang aku lakukan?” Kata-kata darinya benar-benar membuatku berpikir tentang diriku sendiri, instrospeksi diri tepatnya. 

“Kamu tau gak? Radit adik kelas kita itu?”

“Iya, kenapa dengan dia?”

“Kemarin dia nembak aku, dan jelas aku tolak ham” Ia mengatakannya dengan terus menerus meneteskan air mata. Sedangkan aku mulutku hanya terdiam serasa telah terkunci aku tak bisa membukanya.  Aku hanya mengambil nafas dalam dan mencoba merasakan apa yang ia rasakan. Tetapi itu sepertinya tidak mungkin, kedewasaannya sudah jauh lebih tinggi daripadaku. Ia lalu menggengam tanganku dan menaruknya di dadanya, ia menangis lebih keras dan berlanjut.

“Indra juga pernah menyatakan perasaannya kepadaku, Rafi pernah membelikan bunga untukku, Kevin juga pernah minta aku untuk dapat membagikan sedikit hatiku untuknya! Tetapi semua jawabannya jelas ham. Mereka tau aku sudah sama Yoga tetapi mereka juga tau bahwa hubungan kita memang tidak baik saat ini. Dan kamu tau kan apa yang aku katakan kepada mereka? A… A… Aku mengatakan kepada mereka … bahwa aku tetap cinta kepadanya walaupun sebuah masalah sedang memisahkan kita berdua untuk saling mengatakan ‘aku mencintaimu’… Aku mengatakan itu kepada mereka dan lihatlah Yoga, apa yang ia lakukan… Ia kini mulai tidak pamit pulang ke aku kalau ia tidak bertemu denganku saat pulang sekolah, Ia sering tidak membalas smsku, padahal aku sudah membelikan pulsa untuk dia, dibalaspun dibalas dengan singkat… Dan yang paling aku ingin tau, apakah semua rumor tentangnya bahwa ia sering bedua an dengan Putri itu benar ham?” Dengan tangisan ia mengatakan semua itu, hatiku terasa begitu berat mendengarnya mengatakan itu semua. Itu Karena semua rumor itu adalah  sebuh kebenaran, mungkin karena Putri dapat memberikan lebih kepada Yoga. Mungkin juga Yoga hanya melampiaskan nafsunya kepada Putri sedangkan hatinya tetap ada di Indah, tetapi aku tetap tau apa yang sebenarnya ada di benak Yoga karena Indah memang adalah sosok wanita yang di idam idamkan oleh lelaki saat itu, ia cantik, pandai berorganisasi dan juga berprestasi. Mulutku lalu mulai membuka, dan tau apa yang harus aku lakukan.

“Sabar ndah, kamu jangan percaya sama semua rumor-rumor itu, kalau kamu memang benar-benar mencintai Yoga, maka percayalah hanya sama dia. Mungkin ini adalah salah satu masa bosan lagi ndah, kamu yang sabar ya.”

“Tetapi tidak separah ini ham! Kali ini benar-benar beda!” Ia mengeras perkataannya itu lalu membungkukkan badannya dengan tanganku masih digenggam didadanya.  Tangan kananku hanya bergetar karena suasana yang membuatnya begitu merinding. Anginnya yang berhembus dengan kencang, awan mendung menutupi matahari, aku begitu merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan dalam hidupku. Semua perkataannya itu, membuat pikiranku terus berpikir. Berpikir lebih maju, lebih dewasa. Aku yang saat itu tidak memiliki seseorang yang aku cintai berpikir apa yang harus aku lakukan apabila hal yang sama terjadi kepadaku.

“Yang sabar ya ndah, sabar… Mungkin ini cobaan dari Tuhan, sebuah kesakitan yang dapat membangkitkan kedewasaanmu yang akan berguna buat masa depanmu. Sabar ndah” Aku mengatakan itu dengan pelan, memikirkan setiap kata apakah ini betul untuk dikatakan kepadanya. Ia mulai terdiam dan tak berkata apapun hanya tangisan yang dapat terdengar darinya. Suasana benar-benar hening, aku makin merinding dan yang dapat kukatakan kepadanya hanyalah sabar. Aku berpikir untuk mengatakan tangisan itu kepada Yoga agar Yoga dapat mengerti karena ia pernah berkata kepadaku sebelumnya bahwa ia tidak suka melihat seorang wanita menangis. Ia akan melakukan apapun agar wanita itu tidak menangis lagi. Mungkin ia akan memikirkan kata-kata itu yang ia katakan kepadaku dan berhenti melakukan hal-hal bersama Putri berdua lagi mengingat bahwa ia sudah memiliki Indah sebagai orang yang mencintainya. Tetapi saat itu aku hanya dapat mengatakan kata sabar kepada Indah. Tak ada kata lain yang dapat kukatakan sampai ia mulai berhenti menangis, lalu ia memelukku dan menyatakan terima kasih. Kita pulang karena matahari sudah mulai tidak menyinari hari, aku mengantarnya pulang sampai ke depan rumah. Kata sabar dariku dan terima kasih darinya. Aku kemudian langsung menuju ke rumah untuk memikirkan apa yang telah terjadi.

Langsungku berbaring di tempat tidurku dan aku mulai berpikir berat lagi, mungkin pacaran memang ada gunanya… Aku pernah memainkan hati seorang perempuan, pernah membagi hati untuk dua wanita dan aku juga pernah diputuskan oleh perempuan yang aku masih sangat cinta dengan keesokan hari ia bersama lelaki lain. Semua itu menghasilkan sesuatu, menghasilkan sesuatu yang penting untuk sebuah hubungan agar tidak mudah hilang. Sesuatu itu adalah untuk membuat salah satu atau keduanya menjadi lebih dewasa. Kedewasaan paling mempengaruhi sebuah hubungan. Pacaran dengan teman sebaya sering-seringnya tidak pernah berlangsung lama karena wanita selalu memiliki kedewasaan yang lebih tinggi. Tetapi pengalaman juga adalah guru terbaik. Seseorang laki-laki yang memiliki pengalaman lebih dengan seorang wanita seumurnya yang tidak memiliki pengalaman mungkin imbang atau juga mungkin sama seperti cerita orang pacaran seumuran lainnya. Intinya adalah jalanilah hubungan dengan sikap dewasa, itu saja mungkin?


 The End

Malam Ritual Chapter 4 sedang perjalanan *wink* 

0 komentar:

Posting Komentar