Selasa, 28 Januari 2014
Sebenarnya mau post chapter 3 buat bulan Februari, tetapi kelamaan aku post sekarang aja, ohya kalo ada kesalahan tulisan ejaan, atau kata-kata yang kurang tepat bilang yiah :D
Malam Ritual Chapter 3
Lu udah mati GOBLOK! Emosi sudah tak perlu kukendalikan
lagi dalam situasi seperti ini. Kita bertiga hanya berdiam diri melihatnya.
Rupanya seperti rupa zombie yang ada di film The Walking Dead. Tapi ini bukan
zombie… Ini dunia asli. Kali ini Rizal tak mengucapkan sepatah kata apapun. Ia
hanya berdiam diri seperti aku dan Fadil. Kami ketakutan… Sudah cukup banyak
hal yang terjadi di malam itu. Pocong itu kini hanya berdiam diri menatap kita
dengan mata merahnya itu. Secara perlahan mulutnya membuka dan pada puncaknya
ia berteriak dengan sangat keras! Lalu ia menghilang, seolah debu tidak pernah
ada.
Kaki kini melangkah dengan sendirinya, otak sudah tak
memerintah lagi. Otak terisi dengan sebuah rasa kebingungan dan ketakutan dari
peristiwa ini. ‘Tolong’ kenapa orang yang sudah tiada lagi masih meminta
tolong? Kenapa mereka masih ada di dunia ini? Apa yang mereka minta dari kita?
PERTOLONGAN APA?!
Berlari menghasilkan air dari dalam kulit menetes
keluar. Langkah-langkah yang tak menggunakan pikiran tanpa menentukan arah.
Terlihat seseorang berjubah hitam berjalan menuju ke arah ktia. Kita kemudian
berhenti, mungkin ia akan menolong kita.
“Kalian siapa?” Si jubah hitam bertanya. Ia memakai
kalung yang sama dengan apa yang kita lihat dalam perjalanan ke mobil. Segitiga
lingkaran.
“Kami tersesat, tolong bantu kami.” Rizal menjawab
pertanyaannya.
“Oke, ikuti aku.” Itukah balasan dari sang jubah hitam.
Sesuatu pasti ada yang tidak beres dan aku bisa merasakannya. Tetapi Rizal dan
Fadil mengikutinya tanpa merasakan apapun dibenak mereka. Jadi aku terpaksa
ikut dengan mereka dengan memendam perasaan tidak beres ini. Kita terus
berjalan hingga terdengar seorang perempuan bernyanyi sinden jawa lalu terlihat
sebuah lapangan kecil yang terang dengan begitu banyak lilin disekitarnya.
Terlihat juga orang lain berjubah hitam lainnya disitu. Ada juga seorang
perempuan, sepertinya ia mulai menelanjangkan diri. Tanpa kita sadari, kita
tiba-tiba pingsan di tempat dan yang dapat kulihat saat itu hanyalah 5 orang
berjubah hitam melihat kita dari atas. Lalu dengan mataku yang buram kulihat
sesuatu di atas pohon tinggi yang ada disekitar kami saat itu. Putih dan
berambut… Itu sang kuntilanak! Ia terlihat berteriak-teriak seperti yang kita
lihat sebelumnya tetapi tak ada suara apapun yang terdengar. Mataku akhirnya
tertutup.
~|~|~
Ketiduran… Ternyata teman-temanku pada jahilin gue
saat gue lagi tidur. Ketiduran itu membuatku teringat apa yang terjadi seminggu
yang lalu. Ahh… Kejadian itu masih saja membuntutiku. Tak bisa menerima apa
yang telah terjadi. Mimpi-mimpiku belum bisa tenang. Aku pergi ke kamar mandi
untuk membersihkan mukaku yang telah dicoret-coret oleh teman-teman. Mereka
menggambar 3 kumis di samping kanan dan kiri pipiku.
~|~|~
Sebuah kucing berjalan di atas perutku. Aku terbangun
dari pingsan yang tak terduga. Entah kenapa kita bisa pingsan. Kami tetap terlentang
dengan keadaan begitu lemas tanpa dapat bangkit dari tidur kami. Sepertinya 5
orang berjubah itu hilang. Akhirnya aku dapat menggerakan sedikit badanku, yang
kulihat adalah sebuah kepala kambing dengan dua tanduknya yang panjang itu
ditengah lilin-lilin itu. Lalu aku menggerakan badanku ke arah berlawanan. Yang
terlihat hanyalah Rizal. Dimanakah Fadil menjadi pertanyaanku. Lalu kulihat ke
langit, bulan purnama Jum’at Kliwon mungkin adalah tanggalnya saat itu. Kenapa
kita tidak percaya pada Mitos? Apabila kita percaya padanya mungkin semua ini
tidak mungkin terjadi. Kita tak pernah percaya sama apapun mitos yang orang
jawa katakan. Mungkin itu sudah menjadi kesalahan kita apabila kita ingin
tinggal di Pulau Jawa ini. Aku mulai bisa bangkit dan duduk menyandar kepada
pohon. Kulihat bentuk lilinnya. Sebuah bintang dibalik. Ini lucifer? Apakah
mereka orang berjubah itu datang ke sini untuk memanggil sebuah Ibliss?
Maksudku, ini bukan cara orang jawa melakukannya kan? Memanggil Ibliss dengan
seperti ini?
Sebuah darah tertetes di tanganku, dan aku dengan
perlahan menengok ke atas. Aku melihat kepala sang kuntilanak dengan lidahnya
menjulur keluar dari mulutnya yang dipenuh oleh darah. Matanya terbuka lebar
tetapi pupilnya menghilang. Badannya yang paling penting. Badan sang kuntilanak
itu dimana? Yang aku harapkan dari bangun tidur adalah setidaknya ada rasa
senangnya sedikit. Tetapi malah seperti ini. Ah nasib nasib… Inikah yang sang
kuntilanak meminta pertolongan kepada kita? Persetan dengan dia! Seluruh
tubuhku mulai dapat bergerak. Hal pertama yang kulakukan adalah membangunkan
Rizal. Banjir yang mengalir sampai ke
pipinya segera ia bersihkan. Bingung ia melihat ke segala arah dan bertanya
kepadaku “Kita dimana?” Menanyakan keberadaan kita yang juga aku tak mungkin
dapat mengetahuinya. Lebih mengharapakan sebuah pertanyaan seperti ‘Apa yang
terjadi?’ Lalu akan kujelaskan bahwa sepertinya mereka takut kepada kucing.
Tetapi kenapa hewan kucing? Apakah
seperti dalam film The Mummy? Saat kucing datang si ‘Mummy’ kabur. Entahlah…
Rizal berdiri dan melihat bentuk lilin yang terbuat.
“Ini kan! Ini kan! Bentuk yang biasa dibuat dalam
ritual-ritual pemanggilan ibliss itu! Haduh gawat! Kita harus segera pergi dari
sini!” Dengan tergesah-gesah ia mengatakannya lalu ia berlari dan kupegang
tangannya.
“Bukan itu yang paling gawat, FADIL GAK ADA!”
“HA? FADIL? MANA FADIL?! Sudah! Mungkin dia diambil
sama mereka! Ayo kita cari bantuan terlebih dahulu!” Rizal langsung berlari
tanpa ku dapat bisa menghentikannya. Kuikuti langkahnya dari belakang sampai ia
berhenti. Tampaknya kelelahan, tetapi ternyata bukan itu yang sebenarnya
menghentikannya. Terlihat sebuah rumah sakit kecil dengan satu lampu yang hidup
di dalam sebuah ruangan dalam rumah sakit itu. Pintu depannya terlihat gelap.
Seperti yang kukatakan tadi, hanya ada satu lampu yang terlihat hidup. Rumah
sakit itu sepertinya tidak dipakai lagi. Tanpa membawa alat penerang apapun
Rizal memasuki rumah sakit itu terlebih dahulu.
“HALOOOOOOOOOOOOOOOOO! ADA ORANG DI DALAM!” Teriak
Rizal di depan rumah sakit itu.
“Lu yakin nih Zal?” Aku tak yakin dengan rumah sakit
ini karena hanya satu lampu menyala dan tidak ada yang menjawab teriakan rizal.
“Setidaknya kita bisa menemukan senter! Itu yang lebih
penting untuk saat ini.” Ia meyakinkanku
Kita memasuki rumah sakit itu berjalan dengan pelan
agar tidak terdengar suara langkah dan segera mencari ruangan yang lampunya
hidup itu. Aku juga bingung kenapa kita berjalan seperti itu, Rizal kan sudah
berteriak tadi. Lalu terlihat bayangan dari sebuah cahaya. Sebelum kita menuju
cahaya itu, Rizal tertawa.
“Knapa lagi lu zal?” Tanyaku dengan penasaran
“Lihat tuh, ada bantal terbang”
Bantal terbang itu langsung kulihat. Ia benar, ada
sebuah bantal terbang berputar-putar di tempat. Aku jadi ikut tertawa juga,
akhirnya sebuah hiburan. Mungkin ini adalah anak Jin yang lagi main-main dengan
bantal atau apalah, yang penting bantal terbang itu terlihat menarik. Lalu
Rizal mendekati bantal yang sedang melayang itu. Makin mendekat, bantal itu
berhenti berputar kemudian terjatuh. Teoriku tadi mungkin benar, itu anak Jin
yang sedang bermain-main. Seperti makhluk apapun, apabila sesuatu yang besar
datang padanya pasti akan berlari pergi menjauh. “Takut kan dia, sudah ayo
masuk ruangan itu.” Ruangan bercahaya itu dengan pintunya tetap terbuka,
menyinari darah disekitar pintu ruangan itu seperti yang kita lihat di dalam
rumah kosong sebelumnya. Rizal dan aku lalu mengambil sebuah alat pukul untuk
berjaga-jaga, aku membawa kayu dan Rizal membawa botol kaca.
“Siap nih ya, gue lempar nih botol, kalo ada yang
keluar langsung lu pukul pake kayu tuh!” Bisik Rizal kepadaku
“Siap Om!” Gue juga balas dengan berbisik. Lalu Rizal
melempar botol itu, tetapi tidak ada reaksi apapun dari ruangan itu. Jadi aku
memasuki ruangan itu terlebih dahulu. Kita langsung terkejut dengan apa yang
terlihat di dalam ruangan itu.
MUTILASI! TANGAN KAKI BADAN! Bagian tubuh dari sang
kakek mungkin. Karena bagian tubuhnya sudah terlihat tua kita menyimpulkan
bahwa ini adalah bagian-bagian hilang dari sang kakek. Kita memeriksa seluruh
ruangan itu untuk mencari sesuatu yang dapat digunakan. Sebuah handphone tua
yang memiliki sebuah flash light, baterai setengah penuh tetapi tidak ada file
apapun di dalam HP itu. Rizal menaruk sim card nya ke dalam HP itu tetapi
percuma saja tidak ada sinyal lagi. Lalu kulihat keluar jendela tampaknya angin
mulai bergerak kencang dan secara tiba-tiba munculah sesuatu. Sepertinya itu
tubuh si kuntilanak dan kuntilanak itu… Kuntilanak itu memegang kepalanya
ditangannya penuh darah. Sedangkan Rizal tetap berusaha mencari sesuatu yang berguna di
dalam ruangan itu. “Heh liat nih ada roti, sepertinya masih enak dimakan!”
~|~|~
“Makan
rotinya dulu” Ibundanya Azizah menyuruh kita untuk makan roti buatannya sebelum
kita memilih untuk pulang. Hari yang melelahkan buatku, tetapi memang enak roti
buatan Ibudanya Azizah. Itu memuaskan perutku Belum 10 menit, sejumlah sekitar dua
puluh roti dihabiskan oleh 5 orang. Iya kami memang lapar saat itu. Tetapi rasa
kelaparan tidak ada bandingnya dengan kejadian seminggu yang lalu itu.
To Be Continued...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
3 komentar:
sukses wesan ham :D
suwon gas :D
sing iki kata-kata wes tambah apik ham, manteb. Tapi kudu dikasi' pembatas anntar cerita yg terjadi di masa lampau sama cerita yg sedang terjadi. biar yang baca gak tabrakan biar gak bingung. :D Ending e kudu apik iki !!
Posting Komentar